4 ON Penting dalam Motivateens

Memiliki anak yang beranjak remaja memang gampang-gampang susah. Karena di usia ini, anak-anak sudah mulai mencari jati diri sendiri melalui lingkungan dan mungkin peer group-nya. Tetapi, menjadi orang tua sekaligus sahabat bagi anak-anak adalah jalan terbaik untuk mempertahankan hubungan tetap harmonis. Eits, tidak hanya berlaku untuk orang tua terhadap anak ya, tetapi juga bisa lho diterapkan oleh guru, atau mungkin kakak, sepupu, om, dan tante. Agar jiwa kita tetap muda dan mudah bergaul serta terpenting adalah mengarahkan anak-anak remaja ini menuju masa depan yang lebih baik.

Berikut 4 ON yang harus kita kuasai dan terapkan terhadap anak-anak remaja. Jangan sampai keluarga kita terjangkit penyakit cabe-cabean atau bahkan terong dicabein. Hehe…

Materi ini disampaikan oleh Ibu Dhian ‘Motivateens’ Fatmasari. Penulis buku Move On Nggak Pake Lamadengan tema “mengajak remaja untuk move on.” Moderator : dewi bunda afkacenna dan Notulen : dewi mustika rini.

Pertama : VISION

Saya tidak akan menjabarkan teori tentang visi, karena saya yakin ibu-bu semua memiliki pehaman yang lebih dalam tentang makna visi. Tapi, yang ingin saya garis bawahi, pernahkah dan sudahkah ibu-ibu secara rutin berbicara tentang masa depan anak-anak bersama anak-anak? Atau bahkan, sudahkah diskusi tentang visi anak-anak dan dituangkan secara tertulis dalam bentuk ‘life map’?

Pengalaman saya, semua remaja yg ‘out of control’ krn mereka tidak memiliki visi atau panduan dalam mengarahkan hidupnya. Visi yang tertulis juga membantu kita untuk ‘stay focus forward’ ketika menghadapi kondisi-kondisi yang tidak diharapkan dari remaja2 kita. Maksudnya, vision membantu menjaga pikiran-pikiran kita untuk fokus pada kebaikan-kebaikan atau kekuatan-kekuatan remaja kita. Dengan demikian, remaja-remaja kita tumbuh dengan self esteem yang kuat.

Kedua : ACTION

Ibu-ibu, sebelum take ACTION untuk membantu remaja-remaja kita mencapai impian mereka. Hal terbesar yang dibutuhkan remaja,  yaitu :

  1. Kebebasan dan ruang untuk menjadi diri mereka sendiri
  2. Dipercaya
  3. Dicintai
  4. Dihargai
  5. Diberi kesempatan untuk lebih leluasa

Dengan demikian langkah-langkah untuk ACTION adalah :

  1. Perkuat keyakinan dan terus memupuk penghargaan diri serta rasa percaya diri remaja-remaja
  2. Kenalkan remaja dengan strategi-strategi efektif untuk ‘sukses di sekolah dan berhasil di kehidupan (contoh strategi sukses di sekolah : mencatat dengan metode mind map, menghafal dengan metode magasing (MAtematika Gampang Asyik dan Ga Bikin Pusing). Contoh strategi berhasil dalam kehidupan : belajar mengelola emosi negatif,  belajar berkata ‘tidak’ terhadap teman yang negatif, membangun hubungan yang sehat dengan ortu dan guru)

Ketiga : PASSION

Untuk langkah teknis menemukan passion remaja saya rasa banyak metode di luar sana. Yang penting untuk kita     lakukan adalah menghargai setiap kekuatan remaja2 kita dan membantu mereka untuk mengembangkannya.     Saat ini kan banyak tuh fenomena sarjana teknik tapi malah jd guru, sarjana ekonomi malah buka bengkel. Hehe… Semoga tidak terjadi pada remaja kita. Arahkan passion mereka dari awal sehingga menghasilkan sesuatu yang maksimal.

Keempat : COLLABORATION

Yuukks kita bekali remaja-remaja kita dengan kemampuan bekerja sama yg baik. Caranya? Mari sebagai ortu bekali diri dengan kemampuan ‘mendengar’ dan ‘memberi teladan’.

passion, action, motivation, motivateen

TANYA JAWAB

  1. Bagaimana bila kita sendiri masih dalam proses belajar untuk mengelola emosi negatif. Sementara kita sudah harus melatih anak-anak remaja kita untuk mengelola emosi negatif mereka. Bagaiman agar kita sebagai ortu dapat belajar lebih cepat untuk mengelola emosi negatif tsb. Terimakasih.

>> So, ibu-ibu  yang dirahmati Allah. Kita-kitanya dulu yang mesti belajar handle emosi-emosi negatif. Caranya ???

  1. Praktek pertama : tips ini saya dapatkan dari mas Krishnamurti. Pindahkan semua emosi negatif dari dalam tubuh ke tangan yang lebih lemah (biasanya tangan kiri)
  2. Langkah kedua : pindahkan semua emosi positif ke tangan    kanan. Bayangkan,  rasakan, dengarkan saat2 ibu-ibu benar-benar happy or dalam kondisi peak performance
  3. Ketiga : sesuai hitungan ibu-ibu sendiri, lakukan dengan sangat cepat,  satukan kedua tangan dengan sangat keras. Bisa sambil teriak YEZZZZZ…!!! Boleh sambil digosok-gosok kedua telapak tangannya. Terus lakukan sampai menjadi sebuah kebiasaan, sehingga saat ibu-ibu merasa ketidaknyamanan ibu-ibu bisa dengan cepat kembali pada suasana positif.

Untuk remaja, saat mereka pada kondisi kurang nyaman ada beberapa tips :

  1. Rubah fisiologi tubuh. Misalnya, saat marah dalam kondisi berdiri, cobalah untuk duduk. Kemudian berbaring atau hingga mendapatkan posisi yang menyenangkan.
  2. Rubah fokus / gambaran di pikiran
  3. Rubah ucapan, kalo terbiasa ngomong ‘mati gw….’ ato ‘sial…..sial…..’ ya begitu lah diri mereka. Jadi biasakan bahkan pada kondisi-kondisi yang menantang, ucapan
    mereka selalu positif.  Co : aku pasti bisa !!!

 

  1. Tanya bun, saya ingin memberi kepercayaan pada anak saya, tapi saya juga ingin mengontrolnya. Karena sebuah pengalaman pribadi di keluarga saya sebelumnya, kakak saya yang diberi kepercayaan tanpa kontrol ortu akhirnya malah jadi orang yang cuek dengan keadaan, dan ortu pun kaget ktika mngetahui anaknya tidak seperti yang diharapkan. Bagaimana strateginya?

>> Bunda, sesungguhnya kunci utama ‘pengendalian’ remaja adalah strategi komunikasi. Saya beri kutip kata pengendaliannya, karena pengendalian pada anak-anak dan remaja sedikit berbeda.    Bagaimana caranya ??

  1. Fokus pada kekuatan dan kelebihan anak. Bukan berarti remaja tidak pernah melakukan kesalahan.  Tapi sikap kita menentukan seperti apa remaja-remaja itu kelak.
    Co : ini true story…. 2 orang remaja tertangkap basah mengutil di swalayan. Ayah anak A, begitu tiba di kantor polisi langsung memeluk dan berkata,’ Ayah sayang padamu, nak !! Apa yang bisa ayah bantu?. Ayah anak B langsung menempeleng si anak hingga dia terjatuh dari kursinya. Beberapa tahun kemudian, A menyelesaikan kuliahnya dan menjadi profesional, dan B mati tertembak pada usaha perampokan bersenjata. Naudzubillah…..
  2. Belajar untuk mendengarkan dengan aktif. Beri perhatian dan fokus 100% saat anak menyampaikan apa pun yang terjadi dan gigit lidah ibu-ibu untuk tidak mudah memotong atau berkomentar. Pahami dan hargai dulu perasaannya dan bahkan bila perlu tidak usah memberikan nasehat, tapi beri pertanyaan-pertanyaan yang memberdayakan.
  3. ..langkah ketiga….bertanya dengan cara yang tepat. Co sederhana : bertanya dengan kata tanya ‘ bagaimana’ bukan ‘mengapa’. Bagaimana caranya supaya kamu bisa menepati janji untuk pulang sebelum jam 9 malam?? Bukan ‘mengapa kamu pulang terlambat’?
  4. Jadilah teman….sesekali ajak teman-teman mereka untuk nonton bioskop bersama atau menginap di rumah. Dengan demikian, kita bisa mengenal teman-teman remaja-remaja kita.

Tambahan sedikit, fokus pada kelebihan dan kekuatan remaja sangat membantu mereka untuk tahan pada tantangan-tantangan kehidupan. Caranya? Ijinkan mereka untuk melakukan kesalahan dan bantu mereka untuk mengubah kesalahan menjadi pembelajaran besar. Tahan pula untuk tidak mengritik teman-teman mereka, seaneh apa pun. Karena, bagi remaja, teman-teman adalah sumber penghargaan diri yang cukup besar.

  1. Bu mau nanya? Untuk membuat life map visi bisa mulai usia berapa? Untuk anak remaja yang sudah mulai punya seabrek kegiatan bagaimana bisa mengarahkan supaya fokus?

>> Tiger wood belajar membuat visi sejak usia 3 tahun. Muhammad al fatih sejak 2 tahun ( bahkan ada yang mengatakan sejak 13 bulan ). So, menurut saya sih tidak ada usia yang terlalu dini untuk mengarahkan anak untuk punya visi. Hanya yang perlu menjadi catatan, bedakan ambisi ortu dengan visi anak. Kita itu hanya berperan sebagai pengarah bukan raja or ratu di rumah yang rakyat-rakyatnya cuma nurut saja.

Kayak tiger wood, dengan bimbingan dan arahan ortu, dia sendiri yang memutuskan untuk menjadi juara dunia. Keputusan itu dia ambil saat usianya masih 8 tahun, makanya nggak heran saat dia sweet seventin…hehe 17 thn maksudnya, dia sudah jadi juara nasional loga pro USA.

Bunda, supaya remaja menjadi fokus, langkah pertamanya adalah temukan passionnya. Kecenderungan alami remaja adalah mencoba hal-hal baru. So, kita sebagai ortu mesti bijak mengarahkan remaja. Nah, biar sama-sama nyaman, ajak dia untuk fokus pada passionnya.
Sebetulnya, kalo belum sempat untuk uji ilmiah tentang find passion, ibu-ibu bisa menggunakan 3 formula sederhana :

  1. Temukan bidang-bidang yang mereka ENJOY.
  2. Setelah itu check lagi, mana di antara aktifitas-aktifitas tersebut yang mereka ada PERTUMBUHAN kemampuan.
  3. Saringan terakhir, mana yg di antara aktifitas-aktifitas yang mengalami pertumbuhan tersebut. Mereka juga DIAKUI kemampuannya oleh orang lain. Selain itu, bantu remaja-remaja tersebut untuk memahami bahwa fokus pada passion akan membuat mereka menjadi orang di atas rata-rata yang memiliki spesialisasi unik atau punya pembeda kalo bahasanya Ippho Santoso, bukan hanya sekedar
  1. Bu dian bagaimana menangani remaja yang bermasalah? Sekarang ini dua keponakan tinggal dirumah orang tua karena sekolah di tempat tinggal ortu saya. SMU kelas satu (cewek) dan tiga (cowok). Sementara ortu keponakan (kakak saya tinggal di kota lain). Bermasalahnya belum mandiri, pilih-pilih makanan, kurang bertanggung jawab untuk kebutuhan diri sendiri. Karena ortunya (kakak saya) biasa mengurus semuanya. Bagaimana sikap ortu saya (sebagai kakek neneknya)?

>> Wah…..selamat bunda….ini artinya bunda mendapat kesempatan untuk belajar lebih banyak. Terutama terkait dengan penanganan remaja. Menangani remaja sesungguhnya bila tahu kuncinya lebih sederhana dibanding anak-anak. Karena mereka sudah mulai tumbuh otak berpikir logisnya, hanya yang menjadi tantangan adalah merubah kebiasaan, butuh kesungguhan semua pihak. Langkah praktis untuk menumbuhkan kemandirian pada remaja:

  1. Lakukan pembicaraan yang sehat dan berkualitas dengan masing-masing anak, kalau bisa sih secara terpisah. Gali dulu perasaan mereka, siapa tahu mungkin mereka merasa terluka dengan perpisahan terhadap ortu atau mereka hanya mencari perhatian dari orang lain.
  2. Bantu anak-anak tersebut untuk menemukan visi hidupnya, dan beri pertanyaan-pertanyaan yang menggugah.

Contoh: kan kamu mau jadi ilmuwan, kira-kira dengan sikap kamu yang cuek begini bisakah kamu mencapai target hidup kamu? Apa yang bisa tante bantu supaya kamu lebih bertanggung jawab?

  1. Buat kesepakatan-kesepakatan tentang tata tertib. Kuncinya : hargai dulu perasaan mereka dan ajak mereka untuk berpikir ke depan . Ini ada tips dari mas adam khoo, bagaimana membuat tatib dengan remaja :
    1. Hargai dan tunjukkan kalau anda peduli
    2. Bangun kebutuhan
    3. Gambarkan tantangan yang dihadapi
    4. Buat alternatif-alternatif solusi, dan beri mereka kepercayaan untuk memilih
    5. Beri insentif
    6. Tentukan konsekuensi
    7. Bangun komitmen dan rasa dipercaya
    8. Eksplorasi kemungkinan munculnya gangguan
  1. Jadi ingin cerita pengalaman pribadi. Dulu saya kuliah di arsitektur. Sebuah jurusan yang saya pilih setelah mengikuti orientasi jurusan teknik ugm. Tapi saya pilih universitas lain dengan jurusan sama. Ternyata, meski jurusan sama, tapi cara pengajaran dan mata kuliah yang diajarkan di dua perguruan tinggi ini berbeda. Dan ternyata juga, meskipun saya suka menggambar, ternyata saya kurang memiliki sikap kerja yang cocok untuk pekerjaan arsitek, yaitu bisa bekerja di bawah tekanan dan deadline, serta PD dalam menyampaikan gagasan/ide rancangan. Sehingga, setelah lulus, saya merasa saya tidak cocok untuk bekerja sebagai arsitek meski menyukai desain dan membuat karya art and craft. Dan ternyata dunia arsitektur itu, agak keras juga buat type perempuan yang seperti saya.

Yang menjadi pertanyaan, sekarang anak perempuan pertama saya ingin menjadi arsitek. Dia suka menggambar, mendesain bentuk dan bangunan, serta PD. Saya sebenarnya khawatir kalo dia pilih jurusan araitektur, nanti dia malah tidak bisa berprofesi sesuai bidangnya. Sekarang dia masih kelas 6 SD dan teman dan gurunya sudah mengenal cita-citanya untuk menjadi arsitek dan mendukungnya. Bahkan gurunya berkata: ini mah sudah jadi arsitek. Sambil sang guru melihat gambar rancangan rumahnya.

Apa yang harus saya lakukan? Apakah mendukung sepenuhnya cita-cita tersebut atau juga harus memberi dia wawasan lebih tentang dunia profesi arsitek yang agak berat itu dan membuka wawasannya untuk jurusan lain.

>> Oke, bunda, Sebaiknya sih bunda lakukan test psikologi dulu deh. Dan sekarang ada banyak merek. Sebaiknya juga untuk nemu the real passion pake test yang bukan harus nulis-nulis, tapi pakai test sidik jari misalnya. Soalnya test yang dilakukan dengan menulis, biasanya tingkat akurasinya kurang oke. Tergantung kondisi mood anak soalnya.

Untuk putri bunda yang luar biasa, bunda bisa melakukan ‘perjalanan cita-cita’. Maksudnya, bunda sudah tepat sekali dengan mengenalkan dunia profesi tertentu secara mendetail. Mendetail ya, bund. Bukan menakuti. Pisahkan ketakutan dan hambatan bunda dengan kondisi anak. Dan sudah tepat sekali, mumpung masih kelas 6 SD, perkenalkan dengan profesi-profesi lain. Caranya gampang kok. Saat bepergian bersama tunjukkan juga profesi-profesi lain. Ini lho dokter gigi, pekerjaannya begini, bla bla bla…. Tapi, kalo setelah itu anak tetap kuat kehendak untuk menjadi arsitek. Ya, makin gampang tho, apalagi kalo hasil test juga mendukung. suiiippp kan?