5 Misteri Jam Gadang yang Wajib Kamu Ketahui

Setiap daerah pasti memiliki landmark yang menarik setiap orang untuk mengunjunginya. Sebut saja Jam Gadang Bukittinggi. Setiap harinya mampu menarik banyak pengunjung. Tak terkecuali saya yang datang jauh-jauh dari Pulau Jawa untuk melihatnya lebih dekat. Jika dulu hanya dapat saya lihat dari buku pelajaran, sekarang saya telah berhasil menjejakkan kaki di landmark tersohor Sumatera Barat ini.

Jam Gadang memiliki ketinggian mencapai 26 meter dengan luas dasar bangunan 13 x 4 meter. Di setiap sisi menara terdapat 4 jam dengan ukuran besar, yaitu berdiameter 80 cm. Oleh karena itu, menara jam ini dinamakan Jam Gadang atau dalam bahasa Minangkabau berarti Jam Besar.

Menara jam yang tinggi membuat mata kita dimanjakan dengan keindahan alam Kota Bukittinggi. Tapi sayang, saya tidak bisa naik sampai ke atas. Karena saya ke sana pada hari Jumat. Hari libur untuk mengunjungi atau masuk ke dalam bangunan dan naik ke atas menara. Jadi, bisa dicatat ya, jangan ke sana hari Jumat. Hehe

Seperti halnya wisata sejarah lainnya yang penuh dengan misteri, begitu pula dengan Jam Gadang ini. Setidaknya terdapat 5 misteri Jam Gadang yang saya temukan selama saya menjelajahi wisata sejarah ini.

  1. Terdapat Lorong Bawah Tanah Menuju Ngarai Sianok dan Benteng Fort De Kock

Lorong bawah tanah ini dibangun pada masa penjajahan Jepang sehingga lorong ini dikenal dengan nama Lobang Jepang. Sebuah situs sejarah yang menjadi saksi betapa kejamnya Romusha Jepang. Memperkerjakan warga Indonesia dengan semena-mena tanpa istirahat, gaji, dan tanpa makan. Sehingga banyak pekerja Romusha yang meninggal. Bahkan, hingga saat ini pemugaran dilakukan, masih banyak tengkorak manusia yang ditemui.

Wisata sejarah yang membuat saya bergidik merinding, trenyuh, dan mengevaluasi diri bahwa kita sebagai cucu para pahlawan kemerdekaan haruslah banyak bersyukur dan berjuang untuk Indonesia yang lebih baik. Tidak ada lagi kata malas atau bahkan terlena dengan segala fasilitas yang ada. Kita harus bisa berbuat lebih baik lagi untuk Indonesia. Menyejajarkan kedudukan kita di mata dunia tanpa di pandang sebelah mata sebagai negara tertinggal. Harga yang pantas kita bayar sebagai penikmat kemerdekaan bukan?

Jika ditelusur, maka Lobang Jepang ini akan sampai di Ngarai Sianok dan Benteng Fort De Kock. Bahkan masih memungkinkan ditemukan menuju jalur lainnya. Karena Jepang sengaja membuat Lobang Jepang ini sebagai kota di bawah tanah. Sebagai salah satu upaya untuk berlindung dan melarikan diri dari musuh. Namun, pembangunan ini terhenti sejak Nagasaki dan Hirosima dibom oleh sekutu.

wegi, goes, to, lobang, jepang, semen, padang,

Jika sobat Ecoist ingin menelusuri Lobang Jepang, bisa mencoba melalui pintu masuk di Taman Panorama. Eits, tetapi tour-nya tidak sampai di Jam Gadang ya. Karena sangat jauh dan belum dibuka untuk umum. Sebab kondisi dan komposisi udara di dalamnya belum memungkinkan untuk dikunjungi. Semoga suatu saat bisa dibangun dan menjadi destinasi wisata bawah tanah ya! Menarik bukan?

  1. Pembangunan Jam Gadang Tidak Menggunakan Semen dan Besi Penyangga. Hanya Campuran Kapur, Putih Telur, dan Pasir Putih

Jam Gadang dibangun pada tahun 1926 oleh arsitek Yazin dan Sutan Gigi Ameh. Pembangunan Jam Gadang ini merupakan kado dari Ratu Belanda kepada Rock Maker yang saat itu menjabat sebagai Controleur Fort de Kock (Sekretaris Kota Bukittinggi).

Pembangunan awal Jam Gadang hanya menggunakan campuran kapur, putih telur, dan pasir putih tanpa menggunakan semen dan besi penyangga. Putih telur dipercaya memiliki zat perekat yang sangat kuat. Terbukti, tidak hanya Jam Gadang yang menggunakan putih telur sebagai perekatnya. Tetapi juga Masjid Sultan Riau Penyengat (1832) dan Benteng Somba Opu di Sulawesi Selatan (1525) yang masih berdiri kokoh hingga saat ini. Bahkan konon katanya, pembanggunan candi-candi bersejarah pun menggunakan putih telur sebagai perekatnya.

wegi, goes, to, lobang, jepang, semen, padang,
(gambar: RA WAhyudi)

Namun, setelah beberapa kali pemugaran, saat ini bangunan Jam Gadang sudah ditambah batu bata dan semen. Renovasi dilakukan karena beberapa kali Jam Gadang terkena gempa dan tentu karena usianya yang semakin tua membuatnya semakin rapuh. Bantuan renovasi berasal dari berbagai pihak, yaitu Pemerintah Indonesia, Pemerintah Belanda, dan Semen Padang.

  1. Ornamen Jam Gadang Mengalami Perubahan Sebanyak 3 Kali

Pada awal pembangunannya, ornamen Jam Gadang berbentuk bulat dengan patung ayam jantan menghadap ke arah timur di atasnya. Kemudian saat penjajahan jatuh ke tangan Jepang, ornamen berubah menjadi bentuk Pagoda. Setelah kemerdekaan, diubah kembali menjadi gonjong atau atap rumah adat Minangkabau. Kalau kamu suka model ornamen yang mana, Ecoist?

ornamen, jam, gadang, belanda, jepang, bukittinggi
(sumber: alfhazona)
  1. Spekulasi Misteri Angka Romawi pada Jam Gadang

Jika biasanya kita menuliskan IV untuk angka romawi bilangan 4, maka kali ini di Jam Gadang tertulis IIII. Banyak pendapat dan ulasan terkait hal ini. Bagi masyarakat daerah, angka tersebut dipercayai sebagai simbol 4 tumbal atas pembangunan Jam Gadang. Karena entah secara kebetulan atau bagaimana, pembangunan Jam Gadang ini memakan 4 korban jiwa.

Pendapat lain menuliskan bahwa hal ini dilatarbelakangi ketidaksukaan King Louis XIV akan penulisan angka IV pada jam tangannya dan meminta pengrajin jam mengubahnya menjadi IIII dengan alasan ketidakseimbangan visual.

Ada lagi pendapat dari sudut pandang pandai besi. Yaitu, dengan menggunakan penulisan IIII maka akan lebih menghemat bahan baku. Pendapat lain menyatakan bahwa menurut kepercayaan Romawi mengatakan bahwa IV adalah singkatan nama Dewa Jupiter yang ditulis IVPPITER. Maka tak elok rasanya disematkan dalam sebuah jam.

misteri_angka_romawi_jam_gadang_bukittinggi[1]
(gambar: alamatko)

Yang menurut saya paling masuk akal adalah pendapat bahwa berdasarkan manuskrip Forme of Cury (1390) perbedaan penulisan ini sudah biasa. Terkadang 4 ditulis IIII dan IV meskipun masih dalam manuskrip yang sama. Bahkan terkadang berlaku untuk angka 5 (IIIII) dan VV untuk 10 bukan X. Lantas, kapan IIII digunakan dan kapan IV digunakan? Entahlah, sepertinya membutuhkan satu artikel sendiri untuk membahasnya. Hehe…

Menurut salah satu ahli, semua jam matahari sebelum abad ke-19, selalu menggunakan angka IIII. Sedangkan mesin Jam Gadang ini dibuat tahun 1892 oleh Benhard Vortman. Ya, alasan cukup mendekati bukan? Kalau menurut kalian bagaiman, sobat Ecoist?

  1. Mesin Jam Gadang Hanya Ada 2 di Dunia

Sayang seribu sayang saya tidak bisa masuk ke dalam ruangan Jam Gadang. Padahal, jika dilihat lebih dekat, mesin Jam Gadang ini sangat indah. Atau mungkin saya sedang diberikan kesempatan oleh Allah untuk mengunjungi kembarannya di London. Yay, Big Ben!

jam, gadang, bukittinggi, big, ben. london
(gambar: slideshare)

Mesin Jam Gadang ini hanya ada di dunia. Dan, kita beruntung memilikinya. Walaupun hasil dari peninggalan penjajahan Belanda. Setidaknya, kita memiliki peninggalan yang masih bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. Seperti yang kita tahu bahwa Jam Gadang ini memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Yang pada akhirnya dapat membuka peluang usaha seperti tukang foto keliling, toko kelontong, pusat oleh-oleh, kamar kecil, los lambuang, dan masih banyak lagi.

Bagaimana? Apakah sobat Ecoist tertarik untuk wisata ke Bukittinggi?