[Kuliner Padang] Soto Kering, Paku, Hingga Tanbunsu

Tidak dapat dipungkiri jika kuliner merupakan salah satu daya tarik wisata. Kuliner memiliki cara tersendiri dalam mengartikan Bhinneka Tunggal Ika. Yaitu, menyatukan beragam perbedaan suku bangsa dan agama melalui lidah dan perut. Lidah yang menarik minat wisatawan untuk mencicipi. Perut yang memberikan kekenyangan yang menenangkan. Ya! Bukankah pepatah mengatakan bahwa “Dari Perut Turun Ke Hati?” Sehingga banyak orang yang jatuh cinta pandai memasak? Hehe

Menu pertama saya di Padang adalah Soto Kering. Hah? Soto kok kering? Soto kan berkuah? Eits, Soto Padang ini memang lain dai yang lain. Penyajian soto yang baru pertama kali saya temui. Kalau biasanya daging soto empuk dan basah, kali ini soto bening yang dilengkapi dengan soun, emping, dan kentang goreng ini disajikan dengan daging yang berbeda. Benar-benar kering seperti keripik.

soto, padang, kriuk, kuah, bening, daging, kering

Kondisi lapar membuat saya menghabiskan 1 mangkok soto kriuk, 1 piring nasi, dan 1 buah kelapa muda. Wow! Semoga berat badan saya tidak bertambah sepulang dari Padang ya, Ecoist. Hehe

Tak afdhol rasanya kalau ke Jam Gadang, Bukit Tinggi tidak mampir ke tempat makan yang hits di sana. Los Lambuang! Dalam bahasa Padang, Los berarti bentuk bangunan beratap tak berdinding dan hanya terpisah pagar dari papan yang membentuk ruangan terkotak-kotak segi empat. Sedangkan lambuang berarti lambung. Jadi, artinya los lambuang adalah kedai makan terbuka. Menu yang dijual sudah pastilah Nasi Kapau!

Nasi Kapau hampir mirip dengan Nasi Padang di Pulau Jawa (karena saya baru mencoba Nasi Padang di Pulau Jawa saja). Tetapi, menurut saya lebih enak. Mungkin karena bumbu dan rempahnya asli dari Nagari (Kampung) Kapau. Yaitu, daerah yang berada di Kecamatan Tilatang Kamang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Dan, tidak ditemui di Pulau Jawa. Perbedaan rasa pun tentu dikarenakan perbedaan orang yang memasaknya dan tempat di mana mereka berjualan. Konon katanya, rumah makan Padang yang berada semakin menjauhi Padang, akan berkurang tingkat kepedasannya. Tetapi, Nasi Kapau ini juga tidak pedas menurut saya. Atau lidah saya sudah terbiasa dengan yang pedas-pedas? Hehe

nasi, kapau, los, lambuang, ikan, mas

Ada banyak kedai di los lambuang. Sebut saja Nasi Kapau Hj. Mes, Nasi Kapau H. Ana, Nasi Kapau Linda, Nasi Kapau Ni Er, dan lain-lain. Kebetulan saat itu rombongan kami mampir di Nasi Kapau Ni Er. Menu yang saya pesan adalah Nasi Kapau dengan lauk Ikan Mas. Sebenarnya, ada menu andalan yang tidak akan kita temui di Nasi Padang di Jawa (atau saya saja yang belum menemukan J), yaitu Tanbunsu. Tanbunsu adalah campuran telur ayam dan tahu yang dimasukkan ke dalam usus sapi. Saat pertama kali melihatnya, saya jadi teringat iso sapi. Xixi…

Saya tak sampai hati untuk memesannya khawatir tidak sesuai dengan lidah saya. Setelah mencicipi milik teman saya, ternyata rasanya seperti ommelete. Oya, saya pernah menemui olahan telur ayam dan tahu tetapi dimasukkan ke dalam cumi-cumi di Rumah Makan Padang di Bara, Dramaga, Bogor. Dan, ini yang menjadi menu favorit saya saat berkunjung ke sana selain gulai otak sapi. Rasanya berbeda dengan tanbunsu karena rasa tahu dan cuminya lebih mendominasi.

nasi, kapau, los, lambuang, tanbunsu

nasi, kapau, los, lambuang, tanbunsu

Dua hal yang menjadi favorit saya adalah rendang singkong potong dadu-nya yang krenyes-krenyes dan buah mirip leunca tetapi berasa asam. Cocok untuk menemani makanan yang didominasi masakan bersantan ini. Dan, hari-hari saya berikutnya akan dipenuhi dengan masakan bersantan. Onde mande, ini makanan yang selalu saya hindari. Guilty pleasure banget nggak, sih? Sekali-kali lah, ya…

 

Setelah surprised dengan tanbunsu, saya kembali dikagetkan dengan sayur paku! Eits, tenang, ini bukan paku besi atau paku payung kok. Tetapi, tanaman paku-pakuan yang seringkali kita buat untuk hiasan halaman atau teras rumah. Hei, tanaman hias ternyata enak juga ya kalau dimakan. Haha. Lagi-lagi, sayur ini dimasak dengan santan. Oh, no!

lontong, sayur, paku, padang, kuliner