Memacu Balita Tumbuh Tinggi dengan Gizi Seimbang

Apa pengaruh gizi seimbang pada balita? Suka bertanya-tanya ga sih kenapa bule lebih tinggi daripada kita? Mungkin banyak yang menjawab.

“Sudah dari sononya, keles!”

“Gen-nya memang tinggi, kalau kita kan gen-nya pendek!”

Dan masih banyak jawaban lain yang terkadang membuat kita pesimis untuk memiliki keturunan setinggi pemain bola pujaan, Christian Ronaldo mungkin. Atau justru menjadi terobsesi menikah dengan bule untuk memperbaiki keturunan? Hehe

Eits, jangan khawatir! Orang Indonesia seperti kita juga bisa tinggi lho! Tenang, bukan dengan obat-obatan ataupun alat-alat yang ditarik-tarik itu. Tapi dengan perbaikan gizi. Tidak percaya? Menurut Timothy J. Hatton dalam penelitiannya, How Europeans have grown to tall (2013), dikatakan bahwa baju orang Eropa di abad ke-19 yang dipamerkan di museum-museum hanya seukuran orang Indonesia saat ini. Profesor Ekonomi dari Universitas Essex ini melanjutkan berdasarkan penelitiannya di 15 negara di Eropa,  diketahui bahwa ternyata tinggi rata-rata orang Eropa mengalami kenaikan 11 cm dalam satu abad terakhir.

Hal ini sejalan dengan hasil penelitian UNICEF (2003) yang dilakukan berdasarkan studi kasus pada tahun 1990, rakyat Korea Utara yang memiliki tinggi badan lebih pendek 12cm karena krisis pangan dibandingkan rakyat Korea Selatan yang makmur. Hal ini tidak terjadi pada rakyat yang berusia 40 tahun ke atas. Jadi, bisa dipastikan bahwa taraf ekonomi dan kesehatan adalah penentu tinggi badan, bukan ras.

gizi, balita, seimbang, agar, lebih, tinggi

Nah, jelas bukan kalau kita ingin memperbaiki tinggi keturunan kita selanjutnya, tidak perlu dengan menikah dengan orang yang tinggi. Tapi, dengan perbaikan gizi. Mulai kapan? Mulai dari sekarang dong! Terutama pada saat persiapan kehamilan, hamil, menyusui, anak balita, dan seterusnya. Kali ini, kita bahas pemenuhan gizi seimbang pada balita dulu yuk!

Teman-teman pasti sudah familiar dengan istilah golden age dong ya! Dimana pertumbuhan anak sedang pesat-pesatnya yang jika terlewat, maka tidak bisa diperbaiki ke depannya. Termasuk tinggi badan yang akan optimal jika dilakukan pemenuhan gizi seimbang sejak balita. Sumber makanan ini sudah bisa mulai diberikan sebagai makanan pendamping ASI (MP-ASI) di usia 6 bulan ke atas. Lantas zat-zat gizi apa saja yang harus dipenuhi balita?

Vitamin A

Balita usia 0-6 bulan membutuhkan vitamin A per hari sebanyak 400 mikrogram yang masih bisa didapatkan dari ASI. Sedangkan usia 7 bulan – 1 tahun membutuhkan 500 mikrogram dan 300 mikrogram untuk balita usia 1-3 tahun. Sumber vitamin A yang baik bisa didapatkan dari makanan seperti telur, susu, kentang, wortel, bayam, dan mangga.

Vitamin C

Balita berusia 1-3 tahun membutuhkan vitamin C per hari untuk menyintesis atau menyusun komponen struktural penting pada pembuluh darah, otot, jaringan ikat, dan tulang. Vitamin C juga bermanfaat untuk proses pertumbuhan, antioksidan, serta sistem kekebalan tubuh. Sumber yang baik misalnya jambu biji, jeruk, strawberry, tomat, brokoli, dan kentang.

See also  Dampak Serius Jika Minum Susu Berlebihan

Vitamin D

Seperti yang kita ketahui bahwa vitamin D ini sangat berkaitan dengan kadar kalsium dalam tubuh. Vitamin D berperang penting dalam penggunaan kalsium di dalam tubuh secara efisien. Sehingga tubuh tidak kekurangan kalsium dimana hal ini penting untuk menjaga sistem saraf, pertumbuhan, dan mempertahankan kepadatan tulang. Kebutuhan per hari balita berusia 0-3 tahun adalah 5 mikrogram. Vitamin D banyak terdapat di sina matahari pagi, salmon, makarel, dan kuning telur.

Seng (Zn)

Zat mikro ini banyak ditemukan di tiram, almond, sereal whole grains, telur, ikan, dan daging. Seng sangat penting untuk memperbaiki pertumbuhan, mempercepat penyembuhan luka, dan mempertahankan kekebalan tubuh. Balita usia 0-6 bulan membutuhkan 2 miligram seng per hari yang bisa didapatkan melalui ASI. Sedangkan kebutuhan seng per hari balita usia 7 bulan sampai 3 tahun adalah 3 miligram.

Kalsium (Ca)

Tulang dan gigi sangat membutuhkan kalsium untuk tumbuh dan berkembang. Sebanyak 99% kalsium di dalam tubuh ditemukan di tulang dan gigi. Makanan yang banyak mengandung kalsium adalah susu, keju, yoghurt, kacang merah, brokoli, dan bayam. Kebutuhan kalsium per hari balita berusia 0-6 bulan yaitu 210 miligram, meningkat menjadi 270 miligram pada usia 7 bulan sampai 1 tahun, dan usia 1-3 tahun menjadi 500 miligram.

Yodium

Kekurangan yodium ternyata tidak hanya membuat anak menderita gondok, lebih dari itu ternyata bisa mengakibatkan anak mengalami stunting atau perlambatan pertumbuhan. Yodium berguna untuk menyintesis hormon tiroid yang berperan dalam banyak di dalam tubuh seperti reproduksi, metabolisme, pertumbuhan, dan perkembangan. Yodium banyak ditemukan di makanan laut seperti udang, tuna, dan rumput laut. Kebutuhan per hari yaitu 110 mikrogram (0-6 bulan), 130 mikrogram (7 bulan-1 tahun), dan 90 mikrogram (1-3 tahun).

Fosfor (P)

Kebutuhan per hari balita 0-6 bulan yaitu 100 miligram dan 275 miligram pada balita 7 bulan sampai 3 tahun. Fosfor bersinergi dengan kalsium membentuk matriks tempat asal tulang dan gigi tumbuh. Makanan yang kaya akan fosfor adalah susu, yoghurt, keju, telur, daging, dan ikan.

Magnesium (Mg)

Magnesium banyak ditemukan di bahan pangan seperti beras merah, sereal, kacang, dan bayam. Zat mikro ini berfungsi untuk membantu pembentukan tulang dan merupakan bahan esensial dari cairan sel. Kebutuhan magnesium meningkat seiring dengan pertambahan usia. Per hari balita usia 0-6 bulan membutuhkan 30 miligram, meningkat di usia 7 bulan sampai 1 tahun dengan kebutuhan per hari menjadi 75 miligram, dan 80 miligram saat usia 1-3 tahun.

See also  5 IDE MENU AWAL MPASI YANG DISUKAI BAYI

Pemenuhan zat gizi mikro di atas sangat penting untuk proses pertumbuhan. Meskipun terkadang banyak dilupakan oleh kita yang fokus hanya di pemenuhan kebutuhan zat gizi makro seperti karbohidrat, lemak, dan protein. Padahal, zat gizi mikro pun harus dipenuhi secara optimal agar balita mendapatkan asupan gizi seimbang untuk pertumbuhannya. Jika balita mendapatkan gizi seimbang baik makro maupun mikro, maka pencapaian tinggi badan seperti orang Eropa maupun Amerika bukan lagi sebuah mimpi.

Kekurangan zat gizi makro dapat menyebabkan anak mengalami KEP (Kekurangan Energi Protein). Hal ini berarti asupan gizi anak sangat rendah. Selain itu, KEP juga disebabkan karena tingkat kebersihan makanan yang kurang sehingga dapat menyebabkan infeksi pada anak. Anak yang mengalami KEP akan mengalami gangguan pertumbuhan karena kurangnya asupan gizi dan penyerapan zat gizi di dalam tubuh. Berikut kebutuhan zat gizi makro yang sebaiknya dipenuhi ketika balita.

Energi

Kebutuhan energi atau kalori pada anak balita dapat diukur dengan rumus 1000 + (100 x usia dalam tahun). Misalnya, anak usia 1 tahun, maka membutuhkan asupan kalori sebanyak 1.100 kkal.

Protein

Kebutuhan proteinnya balita dalam sehari adalah 10% dari kebutuhan kalorinya. Yaitu, misalnya anak balita usia 1 tahun memerlukan 1.100 kkal, maka kebutuhan proteinnya adalah 110 kkal atau setara dengan  27.5 gram protein. Karena dalam 1 gram protein mengandung 4 kkal.

Sumber protein yang baik bagi balita adalah tempe, tahu, ikan, daging, telur, dan lain sebagainya.

Lemak

Kebutuhan lemak harian balita adalah 20% dari jumlah kebutuhan kalorinya. Yaitu setara dengan 220 kkal untuk kebutuhan balita 1 tahun. Satu gram lemak setara dengan 9 kkal, jadi dalam sehari balita mengonsumsi lemak sebanyak 55 gram. Sumber lemak dapat diperoleh baik secara nabati seperti alpukat, almond, kacang-kacangan, dan lain-lain; maupun lemak hewani yang terdapat pada ikan, daging, telur, susu, dan sebagainya.

Karbohidrat

Selanjutnya, kebutuhan kalori dipenuhi sebagian besar oleh karbohidrat, yaitu sebanyak 70% atau 770 kkal untuk balita usia 1 tahun. Satu gram karbohidrat setara dengan 4 kkal sehingga dalam sehari, balita usia 1 tahun membutuhkan karbohidrat sebanyak 192.5 gram. Sumber karbohidrat tidak hanya nasi dan mie ya, tetapi sebaiknya selalu divariasi dengan kentang, gandum, roti, dan yang lainnya.

Pemberian ASI Eksklusif selama 6 bulan juga termasuk dalam program pencapaian tinggi badan ideal dan optimal ya! Pemberian ASI hingga usia 2 tahun ini penting untuk pemenuhan mikronutrien dan makronutrien yang notabene zat gizi dari ASI lebih mudah terserap di dalam tubuh dibandingkan makanan lain. Baru kemudian disusul makanan pendamping ASI (MP ASI) setelah usia 6 bulan. Tidak boleh lebih cepat maupun lebih lambat.

See also  Kandungan Deterjen Baju Bayi yang Aman Digunakan

Makanan bergizi seimbang hanya bisa didapat dari makanan yang beragam. Karena tidak ada satu pun makanan yang paling sempurna memenuhi semua kebutuhan zat gizi yang dibutuhkan oleh anak. Jadi, pemberian makanan seperti yang tercantum dalam piramida gizi sangat baik untuk pengoptimalan pertumbuhan tinggi badan anak.

gizi, balita, seimbang, agar, lebih, tinggi

Membicarakan gizi seimbang pada balita untuk mencapai pertumbuhan tinggi badan yang ideal dan optimal tidak hanya berbicara tentang pemenuhan zat gizi makro dan mikro. Akan tetapi, seperti yang tercantum dalam piramida gizi, aktivitas fisik juga memegang peranan penting. Oleh karena itu, olahraga menjadi syarat wajib bagi pertumbuhan berat badan yang optimal.

Lantas olahraga apa yang tepat untuk balita? Ajak balita untuk jalan-jalan berkeliling kompleks atau taman misalnya. Bisa juga berenang, bermain tangkap bola, bersepeda, berlari, dan permainan sejenis. Pernah mendengar istilah Bunny Jumping? Yup! Lompat kelinci! Anak-anak sangat senang melakukan hal ini bukan? Ternyata bisa menjadi salah satu faktor penentu tinggi badan lho!

Selain itu, olahraga juga bisa menghindarkan anak dari obesitas sehingga badan anak menjadi lebih sehat. Obesitas selain memberikan dampak kesehatan yang buruk bagi anak, juga dapat menghambat pertumbuhan. Hal ini dikarenan jaringan lemak yang terlalu banyak di bawah permukaan kulit sehingga mengganggu penyerapan kalsium. Seperti yang kita ketahui bukan bahwa kalsium memegang peranan penting bagi pertumbuhan tulang dan gigi.

Pastikan anak juga memiliki kualitas tidur yang baik dan dalam jumlah yang cukup. Balita memerlukan kurang lebih 10-12 jam per hari untuk tidur. Mengapa harus tidur cukup dengan kualitas yang baik? Karena pada saat anak tidur, hormon pertumbuhan bekerja secara maksimal. Hampir mencapai dua per tiga dari jumah total hormon pertumbuhan yang diproduksi dalam sehari. Hal ini terjadi akibat terjadinya proses perombakan dan perbaikan sel tubuh ketika tidur. Jika perbaikan sel berjalan lancar, maka hormon pertumbuhan pun ikut bekerja secara optimal.

Kecukupan tidur, olahraga, dan gizi seimbang pada balita menjadi faktor penting terpacunya pertumbuhan tinggi badan anak yang optimal. Hal lainnya yang perlu diketahui adalah pastikan anak tidak terlalu sering sakit. Anak yang sering sakit, pertumbuhan tinggi badannya tidak optimal. Mengapa? Karena seringkali nafsu makan anak menurun sehingga asupan gizi tidak optimal. Beberapa penyakit kronis tertentu juga dapat mengganggu penyerapan zat gizi di dalam tubuh. Yang pada akhirnya mengganggu produksi hormon pertumbuhan. Karena itu gizi seimbang pada balita dan faktor lainnya harus diperhatikan dengan baik.