Menilik Implementasi Teknologi Hijau di Industri Semen Padang

Apa kabar, Ecoist? Semoga tetap sehat dan semangat untuk selalu mencintai dan menjaga lingkungan kita ya! Aamiin…

Beberapa hari terakhir ini sedang marak pro dan kontra terkait peraturan plastik berbayar. Bagi kubu yang pro, kebijakan ini merupakan salah satu upaya yang bagus untuk mengurangi penumpukan sampah plastik. Saya sendiri, memilih menggunakan kardus jika berbelanja ke swalayan dan sejenisnya. Selain kardus bisa melindungi belanjaan saya dan mudah menatanya di mobil, juga kardus ini bisa saya jual ke tukang rosok jika sudah banyak. Kan, lumayan bisa buat uang tambahan belanja. Haha…

Bagi kubu yang kontra, mereka merasa didzalimi karena diharuskan membayar Rp 200 hanya untuk satu kantong tas kresek yang nanti selepas keluar swalayan akan berakhir di tempat sampah. Mereka juga mempertanyakan mengapa sabun, minyak, mie instan, kopi, dan sebagainya masih dibungkus dengan plastik. Bukankah justru produk itu yang menyumbang sampah plastik paling banyak? Sedangkan tas kresek sendiri, oleh beberapa swalayan sudah menggunakan tas kresek ramah lingkungan yang lebih mudah terurai dengan tanah.

Well, jawabannya sebenarnya sederhana saja, apakah konsumen mau membayar harga produk-produk tersebut jika menggunakan pembungkus selain plastik? Bayangkan jika kita membeli air mineral dengan botol kaca, bukankah harga botolnya jadi lebih mahal daripada isinya? Kertas? Bukankah lebih tidak ramah lingkungan karena pembuatan kertas mengorbankan banyak pohon? Sebenarnya, kalau saya amati, mereka lebih mengkhwatirkan kemana uang Rp 200 yang terkumpul itu? Menambah keuntungan retailerkah? Atau lahan basah bagi pemerintah? Nah, sudah seharusnya pemerintah juga gencar mensosialisasikan pemanfaatan uang kresek ini.

Kalau di Inggris, retailer wajib bekerja sama dengan LSM dalam pemanfaatan uang kresek ini. Terserah LSM apa yang akan ditunjuk, boleh untuk pendidikan, kegiatan lingkungan, maupun kegiatan sosial lainnya. Yang jelas, uang kresek ini bukan untuk retailer maupun pemerintah. Bagaimana dengan Indonesia? Atau mungkin teman-teman Ecoist memiliki ide brilian lainnya untuk membantu pemerintah mengurangi sampah seperti yang dilakukan oleh PT Semen Padang melalui penerapan teknologi hijau di industrinya.

green, technology, energy, teknologi, hijau, semen, padang, indonesia, komunitas, wegi
sumber

Apa itu Teknologi Hijau?

Jauh sebelum pemerintah menerapkan kebijakan plastik berbayar pada tanggal 21 Februari 2016 yang bertepatan dengan peringatan Hari Peduli Sampah Nasional, PT Semen Padang sudah gencar melakukan upaya pemanfaatan teknologi hijau. Teknologi hijau adalah teknik yang menghasilkan energi dan/atau produk yang tidak mencemari lingkungan hidup. Tak heran jika PT Semen Padang yang didirikan sejak tahun 1910 ini kerap meraih berbagai penghargaan sebagai industri hijau. Salah satunya yaitu Penghargaan Rintisan Teknologi (RINTEK) dan Industri Hijau oleh Kementrian Perindustrian.

Penghargaan ini diberikan atas kemampuannya yang luar biasa dalam penerapan inovasi teknologi pertama di Indonesia, yaitu penerapan Waste Heat Recovery Power Generation (WHRPG). Hal ini sejalan dengan tagline PT Semen Padang, yaitu kami telah berbuat sebelum yang lain memikirkannya. Selain itu, penghargaan ini juga diberikan sebagai bentuk pengakuan terhadap industri PT Semen Padang yang komit menerapkan pola-pola penghematan sumber daya dan penggunaan bahan baku energi ramah lingkungan.

Bagaimana dengan Ecoist? Sudah berbuat apa nih untuk lingkungan kita?

green, technology, energy, teknologi, hijau, semen, padang, indonesia, komunitas, wegi, whrpg, indarung
sumber

Implementasi Teknologi Hijau di Industri Semen Padang

Berbicara mengenai green industry, PT Semen Padang telah menerapkan pola-pola penghematan sumber daya dan penggunaan bahan baku energi ramah lingkungan seperti misalnya:

  1. Memanfaatkan limbah untuk mensubtitusi bahan baku antara lain penggunaan copper slag dan sampah concrete sebagai pengganti pasir besi, pemanfaatan DCC (Drilling Cutting Cement), gypsum purified, dan fly ash untuk mensubtitusi tanah liat.
  2. Sebagai bahan bakar alternatif, digunakan biomassa seperti sekam padi, tatal (limbah karet), kertas bekas, serbuk gergaji, dan limbah B3 (majun bekas, grease bekas, dan oli bekas).
  3. Sebagai upaya penghematan listrik namun tetap menjaga kualitas semen dan peningkatan produktivitas cement mill, maka PT Semen Padang melakukan penggantian separator pada cement mill dengan HES (High Efficiency Separator).
  4. Penerapan teknologi Waste Heat Recovery Power Generation (WHRPG) sebagai upaya penghematan energi sekaligus mengurangi emisi gas CO2 dan emisi debu. Dengan penggunaan WHRPG ini, supply listrik dari PLN dapat berkurang hingga ±7% dari total konsumsi listrik perusahaan yang berarti menghemat biaya listrik sebesar ± Rp 2,8 milyar/tahun. Emisi gas CO2 juga berhasil diturunkan hingga 350.319 ton per tahun melalui teknologi WHRPG ini. Suatu teknologi yang luar biasa bukan? Teknologi yang mampu berkontribusi aktif dalam menekan pemanasan global. Teknologi WHRPG merupakan hasil kerja sama dengan NEDO (New Energy and Industrial Technology Development Organization) Jepang sejak tahun 2012.

Tak hanya sampai di sini, PT Semen Padang pun sedang mempersiapkan pabrik baru, Indarung VI yang lebih ramah lingkungan. Setidaknya terdapat lima aspek green industry yang akan diimplementasikan di Indarung VI, yaitu:

  1. Emisi udara jauh di bawah ambang batas yaitu 30 mg/Nm3 (Keputusan Menteri LH No.13 Tahun 1995 ambang batas maksimum 80 mg/Nm3).
  2. Tata kelola sumber daya air (water management) dengan membangun reirculation dan water reservoir.
  3. Penanganan limbah (waste management).
  4. Optimalisasi penggunaan bahan bakar fosil serta meningkatkan penggunaan bahan bakar alternatif.
  5. Area hijau sebanyak 30% dari luas areal pabrik dan membangun green belt.
green, technology, energy, teknologi, hijau, semen, padang, indonesia, komunitas, wegi
sumber

Warisan Anak Cucu Terbaik adalah Bumi Hijau

Semakin bangga rasanya dengan PT Semen Padang yang 51.01% sahamnya masih dimiliki oleh Pemerintah Republik Indonesia. Selain sebagai market leader di industri semen Indonesia, ternyata pabriknya juga begitu sangat memperhatikan lingkungan. Bukankah warisan terbaik untuk anak cucu adalah bumi yang indah? Bayangkan kalau tidak ada lagi pepohonan, bisa-bisa untuk bernafas saja kita harus beli oksigen bukan? Oleh sebab itu, yuk, mulai sekarang kita mulai peduli dengan lingkungan. Bisa dimulai dengan hal-hal sederhana seperti membawa kantong reuseable sendiri saat belanja, merosokkan barang yang sudah tidak terpakai termasuk sampah rumah tangga anorganik, plus CINTAILAH PRODUK INDONESIA! Misalnya, dengan membeli semen padang untuk pembangunan, semen produk dalam negeri dan ramah lingkungan. BUKAN IKLAN. Tetapi sebagai dukungan produk dalam negeri dan tentu keramah-tamahannya terhadap lingkungan.

green, technology, energy, teknologi, hijau, semen, padang, indonesia, komunitas, wegi
sumber

Terima Kasih We-Green Industry (WEGI)

Kalau bukan karena event WEGI yang bekerja sama dengan PT Semen Padang dan Semen Indonesia dalam Petualangan Wisata Heritage Green Industry ini, mungkin saya tidak (mau) tahu tentang green industry yang ada di Indonesia. Saya pikir hanya ada di luar negeri yang menerapkan teknologi hijau ini. Ternyata, begitu canggihnya industri semen di Indonesia. Setidaknya hal ini bisa memicu tim makarame untuk bisa berkarya lebih baik lagi. Sesuai tagline kami Eco-Friendly Crafts. Semoga hal kecil yang kami lakukan pun bisa berdampak luar biasa untuk bumi kita tercinta. Salam Ecoist.

[Berbagai Sumber]

  1. Pengembangan Industri Ramah Lingkungan
  2. Semen Padang Raih Penghargaan Rintisan Teknologi dan Industri Hijau dari Menperin
  3. Sejarah Perusahaan
  4. Pabrik Indarung VI Gunakan Teknologi Ramah Lingkungan
  5. Woww, Ini 7 Spot Menarik yang Akan Dikunjungi Peserta Wisata Heritage Green Industry
  6. Featured image