Peran Suami dalam Mengatasi Postpartum Depression Pasca Melahirkan

Tahun 2017 menjadi tahun yang luar biasa bagi saya. Suatu fase yang sebenarnya sangat dinanti-nanti sekaligus terdapat ketakutan tersendiri dalam menjalaninya. Yup! Tahun ini, Alhamdulilah, saya dipercaya untuk menjaga amanah Allah yang sungguh luar biasa tanggung jawabnya kelak. Seorang bayi perempuan mungil dan cantik. Pengalaman melahirkan tak terlupakan yang pernah saya ceritakan di sini. Perjuangan panjang untuk tetap melahirkan normal meski bayi terlilit tali pusat 3 kali dan Hb rendah.

Saya termasuk orang yang takut sakit. Dalam arti sudah heboh duluan membayangkan luka, darah, dan rasa sakit. Saya ada sedikit phobia tentang itu terkait masa lalu yang pernah saya ceritakan di artikel ini. Jadi, saat akan melahirkan, saya sudah kepikiran yang tidak-tidak. Itu semenjak awal kehamilan. Nanti rasanya gimana ya? Setelah melahirkan bagaimana BAK dan BAB-nya ya? Alhasil, saya selalu berdoa semoga ga ada jahitan seperti kakak sepupu yang lahiran 2X tanpa jahitan. Semua referensi dikumpulkan. Mulai dari suruh banyak jalan, ngepel, kegiatan, dan pas lahiran pantat tidak boleh diangkat. Tapi, hasil berkata lain. Jahitannya banyak. Hehe

Bagi para ibu, normal nggak sih pemikiran apakah saya bisa membesarkan anak-anak dengan baik? Saya menghibur diri dengan kepercayaan Allah menitipkan sebuah jiwa kepada saya. Kalau Allah Sang Pemilik Kehidupan saja percaya saya mampu membesarkan anak-anak, itu artinya saya mampu. Terkadang rasa bersalah itu masih ada tatkala saya harus membiarkan Ai main sendiri karena sedang mengurus pesanan atau menulis artikel ini. Hehe.

Menunggu Ai tidur siang, Ai jarang tidur. Tunggu sampai malam tidur, bundanya ikutan tidur demi bisa bangun setiap 2 jam sekali untuk menyusui. Xixi

Entah karena lelah atau sedang masa penyesuaian, membuat emosi saya kurang stabil. Alhasil, suami menjadi tempat pelampiasan alih-alih mencegah pelampiasan ke bayi. Kalau disuruh curhat pengalaman pertama menjadi ayah, mungkin mengatasi mood swing istri yang paling panjang ceritanya ya. Atau sudah terbiasa sejak hamil? Xixi

Katanya, setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Postpartum depression ini hikmahnya adalah semakin sayang dengan suami, lho. Meskipun kesabarannya memang sudah teruji saat hamil dan melahirkan (rela jadi samsak ^^), tapi pasca melahirkan ini sungguh terasa khasiatnya. Saya jadi mengerti mengapa perempuan diciptakan berpasangan dengan laki-laki. Karena dari segala perbedaan yang dimiliki, bisa saling menguatkan. Yang tadinya cengeng, nangis melow, jadi bisa lebih kuat. Bisa berpikir jernih di saat hati tidak stabil.

Ini pengalaman saya yang paling berkesan di tahun 2017. Berjuang bersama suami menstabilkan emosi pasca melahirkan. Kalau buat Mbak Tanti dan Mbak Nuzha pengalaman apa ya?

Sumber gambar: WeClipart

error: Content is protected !!