Sakinah Bersamamu

Menjalankan biduk rumah tangga terkadang memang tidak seindah kelihatannya, tetapi juga tidak seburuk yang ditakutkan, kok. Asal kedua pasangan suami istri mau belajar ilmu dan menerapkannya. Nah, kebetulan Jumat 16 Juni kemarin saya dan suami diberi kesempatan untuk menimba ilmu tentang “The Miracle of Sakinah” yang diadakan oleh Pesantren Bisnis Indonesia (PBI) wilayah Semarang Raya. Mau sharing sekaligus memenuhi tema Arisan Gandjel Rel kali ini tentang Sahabat. Suamiku, Sahabatku. Materi ini bisa dipraktekkan oleh siapa saja, baik yang masih jomblo, sedang merencanakan pernikahan, ataupun yang sedang menjalankan biduk rumah tangga. Hehe

Setiap pasangan yang akan menikah pasti memimpikan keluarga yang bahagia dan memberikan kenyamanan di saat kembali dari rutinitas di luar rumah. Keluarga adalah tempat kembali yang sangat dinanti-nantikan setiap saat. Itulah sakinah, keluarga yang penuh dengan ketentraman dan kedamaian.

Apakah kita sudah merasakan hal demikian kepada pasangan? Kita senantiasa rindu jika berjauhan dan semakin sayang ketika berdekatan. Bukan sebaliknya, jauh di mata dekat di hati. Dekat di mata, jauh karena sibuk dengan gadget sendiri-sendiri. xixi

Apakah kita sudah bisa saling terbuka menceritakan keluh kesah dan saling mendukung setelahnya? Bukan sebaliknya, lebih nyaman berkeluh kesah di sosial media atau teman-teman kita? Ingat, hindari curhat ke lawan jenis ya, ini bisa jadi pemicu lunturnya rasa cinta kepada pasangan.

Atau, sudahkah kita menjadi pakaian bagi satu sama lain? Artinya, kita selalu berusaha saling menutupi aib pasangan dan memperbaikinya bersama?

Jika hal demikian sudah kita rasakan, SELAMAT! Keluarga kita sudah menjadi keluarga yang sakinah. Jika belum, berarti masih ada hal-hal yang harus diperhatikan dengan seksama.

Kunci utama dari keluarga sakinah adalah kasih (mawaddah) dan sayang (rahmah). Sebelum mencapai itu semua, tentu keridhoan menerima kekurangan pasangan adalah pondasinya. Angka perceraian yang semakin meningkat dengan alasan tak lagi cinta, merasa salah memilih pasangan, atau merasa bahwa pasangan kita sudah berubah tidak sesuai dengan ekspektasi sebelum menikah bisa jadi karena tidak ada keridhoan kita menerima kekurangan pasangan. Seringkali kita mendengar teori bahwa tidak ada manusia yang sempurna, tapi cintalah yang menyempurnakan hanya menjadi pemanis sesaat saat kita tidak bisa menerima dengan lapang dada kekurangan pasangan kita.

Sudahkah kita menerima kekurangan pasangan kita? Dan, mulai mendoakan dengan ikhlas serta berproses bersama menjadi yang terbaik untuk masing-masing pasangan?

Dalam sebuah keluarga, memang tidak dapat dipungkiri adanya perbedaan. Namanya juga dua kepala, dua badan, dua latar belakang yang berbeda. Tetapi justru di situlah seninya dalam membangun sebuah rumah tangga. Ingat, selamanya itu tidak sebentar, jadi sebisa mungkin kita harus bisa menciptakan keluarga impian agar tercipta kenyamanan dan ketentraman lahir batin sampai ke surga.

visi, misi, keluarga, sakinah, mawaddah, rahmah
Sumber: Modern Living Homesteader

Dari pertemuan kemarin, kami belajar untuk merumuskan visi dan misi keluarga. Berkeluarga ternyata tidak cukup hanya saling menerima, tetapi juga menjadikan keluarga memiliki visi dan misi yang jelas agar saat terjadi goncangan atau ombak besar menerpa, kapal kita tak lantas karam kehilangan arah. Namun, layar tetap terkembang mengarungi samudera kehidupan. Istilah kerennya, mau dibawa kemana hubungan kita? *jangan nyanyi ya? Hehe

Satu hal yang harus kita ingat adalah dalam keadaan semarah apapun jangan pernah mengumpat atau mendoakan yang buruk bagi pasangan. Karena bisa jadi, hal inilah yang menjadi pemicu karamnya rumah tangga. Lebih baik diam atau meredam perasaan terlebih dahulu sebelum mengucapkan atau membatin sesuatu yang tidak-tidak. Karena toh, saat kita mendoakan yang buruk bagi pasangan, kita juga yang nantinya akan merasakan dampak buruknya bukan? Begitu juga saat kita mendoakan yang terbaik bagi pasangan, maka kita juga yang akan merasakan manfaatnya.

Bagi laki-laki, ingatlah bahwa Berani MEMBINI, Harus Berani MEMBINA. Dan, bagi wanita, Mau DIBINI, Harus Mau DIBINA. Bukan begitu Mbak Agustina dan Mbak Nunung? 😀