5 Persiapan Toilet Training Bayi 6 Bulan

Kehidupan sebagai ibu baru memang menarik ya. Idealnya sih, persiapan itu jauh dilakukan sebelumnya. Yah, semacam practice makes perfect lah ya! Jadi, sebelum menikah, belajar ilmu pernikahan. Setelahnya belajar seluk beluk kehamilan. Selanjutnya, memahami ilmu parenting. Tujuannya, agar tidak bingung & bisa memberikan peran maksimal. Kalau saya, learning by doing, tapi ternyata ini nggak bener ya, ada baiknya berilmu dulu sebelum bertempur. Biar nggak gampang galau kayak saya. Seringkali merasa selalu kurang dalam mendampingi tumbuh kembang anak setelah mendapat cerita dari yang lain. Hehe. Salah satunya ilmu toilet training. Sebenarnya, kapan sih waktu yang tepat untuk mengajarkan anak toilet training?

 

Kalau menurut saya sih, sesiapnya orang tua. Never too early atau never too late. Misalnya, saya baca sebuah blog bahwa dia sudah melatih bayinya BAB dan BAK sejak 0 bulan. Caranya dengan membaca tanda-tanda bayi saat akan BAB dan BAK. Juga, dengan membuat jadwal mereka biasa BAB dan BAK.

Namun, ternyata cara ini tidak berhasil untuk saya dan bayi saya. Sudah dibuat jadwal biar ngirit popok dan cucian, baca ekspresi, dan sebagainya. Barulah saya berhasil membaca ekspresi menjelang 6 bulan. Tekad sudah bulat, karena usia 6 bulan sudah MP-ASI dan pastilah feses bayi mengalami perubahan baik tekstur, warna, maupun bau. Rasanya kasihan saja kalau saluran kencingnya harus berinteraksi langsung dengan fesesnya. Apalagi anak saya perempuan.

Kekhawatiran ini bermula dari artikel yang menjelaskan bahwa pemakaian pospak bisa meningkatkan infeksi saluran kemih. Karena adanya singgungan antara feses dan urin. Jadilah, mak-mak baru ini parno dan putar otak untuk menghindarkan anak kesayangan dari infeksi.

Alhasil, belajar membaca ekspresi anak saat akan BAB dan BAK. Oke, sampai artikel ini diterbitkan, saya baru berhasil membaca ekspresi bayi akan BAB. Sedangkan BAK belum bisa. Jadi, mau beli celana toilet training juga masih maju mundur. Hehe

Nah, soal usia bayi, ada juga yang mengajarkan toilet training setelah anak bisa diajak komunikasi. Ada yang 1, 2, 3, atau bahkan 4 tahun. Ya, itu semua kembali ke orang tua masing-masing ya. Karena kan setiap orang tua akan lebih memahami anak-anaknya. Seperti yang saya ceritakan di atas, ada yang berhasil TT anaknya sejak usia 0 bulan. Teman saya berhasil TT anaknya di usia 4 bulan. Dan, benar-benar anaknya tidak mau pipis atau pup di popok. Dia salah satu yang menginspirasi saya untuk mulai membaca ekspresi. Nah, apa sih yang sebaiknya dipersiapkan saat akan melakukan TT?

1. Mental Orang Tua

Siap ya, kalau lagi sibuk tiba-tiba bayi memberikan sinyal mau BAK atau BAB? No excuse lagi sibuk terus dibiarkan begitu saja. Karena ini akan membingungkan anak untuk kapan saya bisa mengomunikasikan hajat saya kepada orang tua. Nah, ini juga yang membuat saya maju mundur memandirikan anak untuk tidak pipis di popok. Karena ekspresi, jadwal, &  frekuensi pipis masih sulit ditebak. Maafkan bunda ya sayang. Semoga secepatnya bunda bisa berhasil TTnya. Aamiin

2. Kerja Sama dengan Bayi

Meskipun masih 6 bulan, tapi saya berusaha mengajak anak untuk memberikan signal saat dia akan BAB & BAK. “Menahan” BAB sebentar sudah berhasil, misal dia ekspresi serius seperti akan mengejan saya akan bilang, tunggu ya sayang, bunda siapkan dulu pispotnya. Alhamdulilah, bisa diajak kerja sama. Tapi, memang selama 1 bulan TT ini (Awal TT 27 Februari 201), saya gagal 2X. Karena sibuk balesin chat pesanan tanaman kaktus sukulen dan kurma premium yang masuk. Maafkan ya…

Sedangkan ekspresi akan BAK, saya masih gagal. Tahu-tahu sudah pipis. Jadi, lanjut ke poin 3.

3. Gunakan Celana Toilet Training

Nah, alat bantu TT, salah satunya dengan celana toilet training. Ini baru akan saya coba untuk melatih anak tidak pipis di popok lagi. Yaitu, memberikan kesan tidak nyaman celananya basah sehingga dia bisa memberikan sinyal akan pipis.

4. Pakai pispot yang tepat

Inilah pentingnya berilmu sebelum bertempur yang saya utarakan di atas. Saya dong, hampir beli toilet dari Cina & Malaysia karena ada toilet anak yang menurut saya praktis bisa digunakan di toilet duduk dan jongkok. Alhamdulilah, saya punya suami laki-laki. Hehe

Saat di babyshop, dia inisiatif untuk mencobakan toilet-toilet di sana ke anak. Ada model yang mirip yang saya suka, ternyata kebesaran banget. Dan, menemukan pispot yang murah dan fungsional. Ya, makanya kita dipasangkan dengan lawan jenis. Biar lebih logis. Xixi

 

Toilet Impian yang Masih Kegedean

Toilet Ideal untuk Anak Saya (Awal Pakai usia 6 bulan)

5. Evaluasi

Jangan putus asa ya. Evaluasi itu penting. Jangan menuntut apalagi membandingkan anak. Saat gagal TT, evaluasi diri kita, dan lakukan kerja sama lebih baik lagi dengan anak.

Okey, sekian curhatan panjang lebar yang semoga bermanfaat ya. Entah, rasanya ingin banget nulis ini. Semoga berfaedah.

Salam belajar, parents…

error: Content is protected !!