fbpx

8 Fitrah Anak Yang Wajib Orang Tua Ketahui

Setiap anak dibekali fitrah atau pembawaan luhur sejak lahir oleh Allah SWT. Jadi, sejak lahir sejatinya setiap anak memiliki potensi menjadi baik. Menurut Ustad Harry Santosa, setidaknya terdapat 8 Fitrah Anak yang sebaiknya orang tua ketahui sebagai bekal mendidik anak. Tugas orang tualah untuk membantu anak mengenali dan menjaga fitrahnya di awal kehidupan hingga anak dewasa dan berakal (aqil baligh). Sehingga setelah aqil baligh, anak sudah paham akan peran dan maksud penciptaannya.

Pertama, Fitrah Keimanan (Spiritual)

Setiap anak secara fitrah memiliki kecenderungan untuk beriman kepada Allah SWT. Karena sebelum kita dilahirkan, Allah telah mengambil kesaksian kepada roh kita bahwa Dia-lah Sang Pencipta. Hanya Allah-lah Tuhan kita. Hal ini sejalan dengan firman Allah berikut:

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.”

Q.S. Al-Araf:172

Fitrah Keimanan (Spiritual) ini juga disampaikan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadist berikut:

Dari Abi Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “Setiap anak dilahirkan dalam kondisi fitrah kecuali orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”

HR. Bukhari Muslim

Oleh sebab itu, tugas orang tualah yang menumbuhkan kembali fitrah tersebut. Usia 0-7 tahun (At Thufulah) adalah usia emas atau golden age untuk menumbuhkan Fitrah Keimanan. Anak usia 0-7 tahun adalah fase dimana orang tua wajib menanamkan nilai-nilai tauhid dengan keindahan. Karena pada usia ini, anak sangat suka dengan keindahan, kelembutan, dan kasih sayang. Oleh sebab itu, kenalkan sifat-sifat Allah yang baik dan indah. Bukan menakut-nakuti dengan dosa, neraka, azab, amarah Allah, dan lain-lain.

See also  3 Aplikasi Parental Control untuk Internet Sehat Anak

Namun, kenalkan Allah sebagai Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pemaaf, dan sifat keindahan lainnya. Ajak anak untuk tadabur alam sambil menyisipkan tentang sifat Allah Maha Pencipta. Saat melihat matahari dan bintang, kita kenalkan bahwa Allah lah yang mengatur tata surya agar berputar sesuai garis edarnya. Burung berkicau, daun berbisik, dan suara-suara alam adalah cara mereka bertasbih kepada Allah dengan bahasanya masing-masing. Masya Allah.

Kedua, Fitrah Bakat & Kepemimpinan (Bisnis & Pekerjaan)

Allah menciptakan setiap anak dengan maksud dan tujuan tertentu. Ada anak yang diciptakan untuk menjadi dokter, pengusaha, guru, dan lain-lain. Begitu pun anak kita, arahkan sesuai dengan potensinya. Bukan sesuai kemauan kita. Bantu anak untuk menemukan passion-nya sejak dini. Sehingga anak bisa memaknai peran penciptaannya. Saat anak sudah paham peran apa yang dititipkan Allah kepadanya, maka dia bisa berusaha secara maksimal untuk menjadi yang terbaik di bidangnya. Dan dia melakukan dengan penuh kebahagiaan, karena dia melakukan yang sejatinya dia suka. Sesuai dengan potensi yang Allah berikan.

Bantu anak menemukan bakatnya dengan membuat jurnal kegiatan anak. Kita sebagai orang tua harus rajin menuliskan kegiatan anak sehari-hari. Apa yang dia suka dan apa yang tidak dia suka. Pada usia 0-7 tahun, pastinya masih akan berubah-ubah karena anak masih ingin mencoba segala sesuatu. Namun, pasti ada kecenderungan yang paling dia sukai. Jika kita sudah tahu apa yang dia sangat sukai, maka di usia 7+ kita bisa arahkan dengan membuat kurikulum bagi dirinya.

Ketiga, Fitrah Belajar & Bernalar (Intelektual)

Setiap bayi lahir dengan rasa penasaran yang besar. Segala sesuatu ingin dicoba, saat masih baru lahir, dia belajar membuka mata, menyusu, dan mengenali kedua orang tuanya. Sedikit lebih besar, dia akan mencoba untuk bangkit, tengkurap, merangkak, hingga berjalan tanpa takut jatuh. Jadi, secara fitrah, anak adalah pembelajar yang tangguh dan tak kenal putus asa!

Kitalah orang tua yang terkadang mengenalkan dengan rasa takut untu mencoba. Dilarang begini, dilarang begitu, dan lain sebagainya. Oleh sebab itu, yuk kita coba menumbuhkan kembali kepada anak untuk tetap mempertahankan rasa keingin-tahuannya yang besar. Dengan demikian, anak akan sangat antusias dengan belajar. Kita dampingi mereka untuk memuaskan rasa ingin tahunya hingga anak-anak enjoy untuk belajar dan bereksperimen. Arahkan bahwa apapun yang sedang mereka pelajari, ada Allah yang membantu kita paham. Maka, segala ilmu yang datang dari Allah harus kita kembalikan ke Allah dengan cara ilmu kita bisa bermanfaat bagi diri kita sendiri, orang banyak, dan lingkungan.

See also  Management University Singapore Best

Keempat, Fitrah Individualitas & Sosialitas (Sendiri & Berkelompok)

Maknai fitrah anak sebagai makhluk individu dan sosial sesuai dengan fase perkembangan psikologisnya. Agar kita tidak mudah melabeli anak dengan kata pelit, tidak mau berbagi, dan sebagainya. Hal ini tentu akan melukai hati anak. Dan menjadikan dia rancu akan arti kepemilikan dan kapan harus melindungi apa yang dimilikinya.

Usia 0-7 tahun adalah usia dimana anak masih ego sentris. Anak belum memiliki tanggung jawab moral dan sosial. Tak mengapa saat anak belum mau berbagi, kita tidak boleh memaksanya berbagi. Namun, bisa diarahkan misal ingin bermain bersama dengan catatan kita tidak boleh memaksa harus berbagi. Kalau tidak mau berbagi lantas kita cap pelit. Belum tepat pada usianya.

Saat usia 7 tahun ke atas, fase itu akan beralih pada sosio sentris. Jika pada fase ego sentrisnya terpenuhi atau terpuaskan, maka pada fase sosio sentris ini dia akan berkembang dengan baik. Maka, kita boleh terburu-buru dalam mengajarkannya. Allah pun memiliki waktu untuk mengajarkan anak sholat pada usia 7 tahun dan baru boleh memukul jika tidak sholat di usia 10 tahun ke atas. Maka ingat, setiap fase ada waktunya.

Kelima, Fitrah Jasmani, Fisik & Indera (Kesehatan)

Allah ternyata sudah membekali anak secara komplit secara keseluruhan hingga pada jam biologisnya. Sesuai peran yang dititipkan Allah padanya, fisik dan inderanya pun sudah Allah siapkan. Namun, tugas orang tua tetaplah memberikan stimulus yang maksimal sejak dalam kandungan. Memenuhi kebutuhan gizi, psikologis, dan stimulus lain agar anak tumbuh dan berkembang secara maksimal.

Pun, kebiasaan jam biologis yang sejatinya anak-anak atau bayi sudah dirancang bangun sebelum subuh, namun orang tuanya yang menidurkan kembali. Lantas, pada saat dewasa mereka akan kesulitan bangun subuh. Semoga kita bisa menjaga fitrah ini sehingga anak terbiasa menjadi morning person.

Keenam, Fitrah Seksualitas & Generatif (Keluarga)

Secara fitrah, Allah hanya menciptakan laki-laki dan perempuan. Dan tidak ada istilahnya produk gagal dimana Allah salah meletakkan jiwa perempuan ke badan laki-laki atau sebaliknya. Kegagalan dalam mengenal fitrah seksualitasnya lah yang membuat seseorang menjadi demikian. Dalam pendidikan seksualitas inilah, kita membantu anak-anak untuk mengenal identitas seksualnya, peran gender yang dia miliki, dan mengajarkan bagaimana mereka terhindar dari kejahatan seksual.

See also  Asal-Usul dan Arti Hompimpa Alaium Gambreng

Ketujuh, Fitrah Estetika & Bahasa (Keindahan)

Allah itu indah dan menyukai keindahan. Begitu pula anak-anak. Setiap anak dikaruniai selera seni dan sastra yang berbeda-beda. Setiap anak dibekali dengan kemampuan berbahasa bahkan sejak di dalam kandungan. Dia berkomunikasi dengan kedua orang tuanya melalui gerakan. Saat lahir, dia berkomunikasi dengan menangis. Seiring bertambahnya usia, dia berkomunikasi dengan babbling hingga berbicara dengan lancar. Ajarkan dan pahamkan anak dengan bahasa ibu hingga usia 9 tahun, hingga usia dia bisa menyampaikan pendapatnya dengan baik. Kemudian, ajarkan dia bahasa asing yang lain.

Kedepalan, Fitrah Perkembangan (Tumbuh Kembang)

Pentingnya orang tua mengetahui tahap perkembangan anak adalah membuat kita lebih sabar dalam mendidik anak. Kita juga tidak mudah membandingkan anak kita dengan yang lain. Karena bisa jadi memang belum saatnya. Menurut Andri Yulianto (Founder Sekolah Aqil Baligh Purwokerto), terdapat 4 fase pendidikan dalam era kenabian:

  1. At Thufulah (0-7 tahun): fase menumbuhkan keimanan dan fase bermain/pra latih belajar (belum wajib belajar, dunianya masih bermain)
  2. Tamyiz (7-10 tahun): usia latih / fase belajar (ingat masih belajar, jadi wajar salah dan tidak langsung bisa, semua berproses)
  3. Murohaqah (10-14 tahun): fase transisi/pra-aqil baligh. Saatnya kita menerapkan benar dan salah, reward and punishment, dan mengenalkan pada pendelegasian tugas, kemandirian, dan tanggung jawab.
  4. Asyabab (14 tahun ke atas): Sudah bisa mandiri dan mengambil keputusan sendiri. Biasanya di usia ini sudah memasuki aqil baligh.

Setiap fase, ada tujuan pendidikannya masing-masing. Jadi, jangan paksakan kemampuan anak sebelum waktunya. Tuntaskan hak-hak anak, maka saat dewasa dia bisa melaksankan kewajibannya dengan baik.

Views: (82)