Eco Facts Archives -

Industri fashion terus berkembang mengikuti zaman. Bahkan, setiap detiknya muncul model baru dari para designer berbakat di dunia ini. Hal ini terjadi pula di daerah makarame, Sumowono. Hampir setiap hari, puluhan bahkan ratusan penjahit sibuk dengan pesanan jahitannya. Baju sarimbit, gamis, celana, seragam, dan lain sebagainya tak ayal menyisakan kain perca yang seringkali hanya berakhir di perapian. Bisa bayangkan bagaimana beratnya tugas atmosfir kita menampung hasil sisa pembakaran kain-kain perca ini? Continue Reading…

(3)

Mulai saat ini, biasakan membawa kantong sendiri jika hendak berbelanja, ya Ecoist! Karena sejak tanggal 21 Februai 2016, tepat pada peringatan Hari Peduli Sampah Nasional, akan diberlakukan peraturan bayar kantong plastik jika kita berbelanja di minimarket, supermarket, dan sejenisnya.

Secara bertahap, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) akan melakukan sosialisasi kantong plastik berbayar di 17 kota besar di Indonesia seperti DKI Jakarta, Bandung, Bekasi, Depok, Bogor, Tangerang, Solo, Semarang, Surabaya, Denpasar, Palembang, Medan, Balikpapan, Banjarmasin, Makassar, Ambon, dan Jayapura. Continue Reading…

(5)

Pertumbuhan populasi yang tidak diikuti oleh pertumbuhan lahan membawa dampak tersendiri terhadap lingkungan. Jika dahulu kita masih terbiasa dengan jarak antar rumah yang berjauhan (bagi anak 90-an seperti saya masih mengalami), bahkan kepemilikan halaman rumah yang luas, kini kita terbiasa menjumpai rumah yang temboknya menjadi satu dengan rumah orang lain. Bahkan seringkali tak ada halaman rumah di depannya, buka pintu langsung jalan atau lorong bagi yang tinggal di apartemen/rusun.

Dulu, saya mengalami menanam biji buah di halaman, menyirami dan merawatnya walaupun tidak sampai tumbuh besar dan berbuah. Sekarang saya harus puas dengan menanam tanaman di dalam pot di teras rumah. Continue Reading…

(6)

Sudah berapa lembar tisu yang kamu gunakan hari ini? Makarame harap kalian tidak menggunakan tisu terlalu banyak hari ini dan seterusnya ya! Tisu memang lembaran kertas tipis dan lembut yang nyaman digunakan untuk mengelap keringat dan kotoran di wajah, ingus di hidung, minyak di tangan, maupun benda-benda di sekitar kita. Pemakaian tisu sering digunakan karena kepraktisannya menggantikan sapu tangan. Ya, dengan harga tisu yang tergolong murah, kita tidak sayang untuk membuangnya setelah dipakai. Sedangkan sapu tangan, meskipun kotor akan sangat sayang dibuang dan mau tidak mau kita harus membawanya untuk dicuci di rumah. Salah satu alasan kepraktisan inilah yang membuat tisu semakin marak digunakan.

Namun, tahukah kamu bahwa di balik kepraktisan tisu terdapat proses pembuatan yang panjang dengan membawa dampak lingkungan yang kurang baik. Bagi sebagian orang, mungkin isu ini bukan hal baru karena Pemerintah pun sudah mencanangkan gerakan hemat tisu dan kertas melalui berbagai media seperti televisi, media sosial, dan lain-lain. Namun, mengapa penggunaan tisu masih marak? Semoga dengan artikel ini, kita bisa menekan penggunaan tisu. Minimal untuk diri kita sendiri ya. Continue Reading…

(1)

Seperti halnya hati, bumi kita juga cuma satu. Maka harus dijaga dengan baik dan jangan disakiti. Andai semesta mulai rapuh dan tak mau lagi menerima kita, tamatlah riwayat kita. Karena tak ada lagi tempat untuk ditinggali. Meskipun banyak ilmuwan yang meneliti planet di galaksi bima sakti ini sebagai alternatif migrasi.

Berbagai upaya gerakan pecinta lingkungan dilakukan untuk mengingatkan masyarakat untuk menyayangi semesta lebih baik lagi. Pemadaman lampu serentak selama satu jam di seluruh dunia dilakukan tepat pada Hari Bumi Sedunia 22 April untuk mengingatkan kepada kita betapa pentingnya menghemat energi sebagai warisan anak cucu kita kelak. Tentu bukan hanya pada Hari Bumi Sedunia saja penghematan energi dilakukan. Pada saat kita tidur misalnya, memadamkan lampu bisa menghemat energi juga bukan? Continue Reading…

(4)

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi dan melihat langsung proses peledakan (blasting) batu kapur di Tambang PT Semen Padang (PTSP). Seperti yang sudah saya ulas sebelumnya di sini bahwa PTSP memiliki komitmen untuk mengimplementasikan asas triple bottom line, yaitu meskipun sebagai perusahaan bisnis PTSP mengejar adanya keuntungan (Profit), akan tetapi PTSP akan senantiasa memperhatikan aspek sosial (Social) dan lingkungan (Planet).

Kali ini, saya akan membahas terkait dengan komitmen PTSP dalam mengelola/mengendalikan dampak negatif secara fisik terhadap lingkungan terkait dengan kegiatan penambangan. Terutama terkait dengan proses blasting. Sebelum melihat proses blasting, kami diwajibkan untuk mengenakan safety helmet and vest terlebih dahulu. Sebenarnya, kita wajib menggunakan safety shoes juga saat mengunjungi areal penambangan. Tetapi, karena belum diinfokan sebelumnya, maka kami menggunakan alas kaki seadanya. Alhamdulilah, kebanyakan dari kami sudah mengenakan sepatu tertutup. Jadi, sudah cukup aman. Namun, kami tetap harus hati-hati, tidak boleh terlalu jauh dari tempat yang sudah disediakan untuk melihat peledakan, dan tidak boleh terpisah dari rombongan. Continue Reading…

(55)

Apa kabar Ecoist? Semoga masih tetap cinta lingkungan dan senantiasa dalam keadaan sehat, cerah, ceria ya! Setelah pro dan kontra plastik berbayar yang ditetapkan oleh pemerintah yang sudah makarame bahas di sini, kini makarame ingin membahas tentang pro dan kontra kegiatan bank sampah dan daur ulang yang dilalui oleh para kreatif dan pecinta lingkungan.

Beberapa waktu lalu, makarame membaca sebuah artikel dimana penulis artikel kontra dengan menjamurnya kegiatan bank sampah dan daur ulang sampah menjadi kerajinan. Penulis mengatakan kalau kegiatan bank sampah hanyalah trend dan kelatahan beberapa orang yang mengikutinya. Pun dengan kegiatan kerajinan handmade dari sampah. Tak ada pasar yang jelas dan harga yang kurang setimpal dengan kerja kerasnya, membuat penulis beranggap bahwa kegiatan bank sampah dan daur ulang tak lain dan tak bukan hanya menguntungkan produsen sampah semata. Ya, para produsen merasa aman-aman saja menggunakan plastik sebagai pengemas produknya karena merasa ada bank sampah dan para eco-crafter serta eco-preneur yang membersihkannya. Continue Reading…

(6)

Apa kabar, Ecoist? Semoga tetap sehat dan semangat untuk selalu mencintai dan menjaga lingkungan kita ya! Aamiin…

Beberapa hari terakhir ini sedang marak pro dan kontra terkait peraturan plastik berbayar. Bagi kubu yang pro, kebijakan ini merupakan salah satu upaya yang bagus untuk mengurangi penumpukan sampah plastik. Saya sendiri, memilih menggunakan kardus jika berbelanja ke swalayan dan sejenisnya. Selain kardus bisa melindungi belanjaan saya dan mudah menatanya di mobil, juga kardus ini bisa saya jual ke tukang rosok jika sudah banyak. Kan, lumayan bisa buat uang tambahan belanja. Haha… Continue Reading…

(7)

Hallo, Ecoist, apa kabar? Semoga dalam keadaan sehat wal afiat dan senantiasa mencintai lingkungan ya! Kali ini, makarame mau berbagi foto-foto kreasi bunga ndol-ndol shabby chic yang kekinian itu lho. Seperti biasa, produk recycle ini terbuat dari sampah anorganik, yaitu perca brokat, perca kain, perca busa, perca flanel, dan kaleng susu bekas. Kalau mau memetik bunga-bunga makarame, langsung saja ke homepage ya, Ecoist!

pulpen, unik, lucu, eksklusif, wedding, guest, book, makaramepulpen, mawar, flanel, bunga, broklat, makaramepulpen, bunga, ndol, ndol broklat, perca, makarame

Continue Reading…

(0)

Apakah Anda salah satu penggemar bunga tulip? Kalau saya iya dan sangat ingin melihat aslinya di Turki dan Belanda. Mengapa Turki dan Belanda? Karena konon katanya, asal muasal bunga tulip sebenarnya dari Turki namun sangat terkenal di Negeri Belanda. Mengapa? Tersebutlah Carolus Clusius, seorang pakar perkebunan Belanda yang mulai jatuh cinta dengan bunga tulip dan kemudian mengembangkannya di kebun praktik Universitas Leiden, Belanda. Tak hanya sampai di situ, Carolus juga berhasil membuat variasi warna yang sangat menawan dan digemari oleh banyak penikmat bunga Tulip. Akhirnya, tersebar meratalah Tulip ditanam di seluruh penjuru Negeri Belanda. Dan, kini, tersebar di seluruh pejuru dunia, termasuk Indonesia.

pulpen,vintage,tulip,shabby,chic,makarame,wedding,penpulpen, merah, tulip, shabby, chic, makarame, wedding, penpulpen, bunga, tulip, shabby, chic, makarame, wedding, pen

Continue Reading…

(3)

D’EcoPen (Decorative & Eco-Friendly Ballpoint Pen) adalah sebuah produk dari Makarame Eco Friendly Crafts, yaitu pulpen yang sekaligus dapat digunakan sebagai hiasan, pincushion, photo/card holder, dan manfaat lain sesuai kreasi Ecoist. D’EcoPen merupakan produk recycle yang memanfaatkan aneka limbah anorganik seperti pulpen, perca, kaleng, kemasan plastik, busa, dan lain sebagainya.

ballpoint,pen,flower,bunga,cactus,kaktus,makarame,fabric,scrap,foam,handmadeballpoint,pen,flower,bunga,cactus,kaktus,makarame,fabric,scrap,foam,handmadeballpoint,pen,flower,bunga,cactus,kaktus,makarame,fabric,scrap,foam,handmadeballpoint,pen,flower,bunga,cactus,kaktus,makarame,fabric,scrap,foam,handmade

Gagasan pengolahan limbah anorganik ini sendiri bermula dari keprihatinan para penjahit di Desa Sumowono yang memilih membakar perca ataupun membuangnya di tempat sampah karena tidak laku dan tak ada tempat jika terus disimpan. Padahal, pembakaran sampah sendiri dapat menimbulkan pencemaran udara. Bumi sendiri membutuhkan waktu 30-40 tahun untuk mengurai perca-perca ini. Tak hanya sampai di situ, penurunan harga & lesunya jual beli sampah anorganik yang terjadi ±8 bulan belakangan ini juga mempengaruhi peningkatan penumpukan sampah. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya pengolahan yang lebih tepat. Salah satunya dengan menjadikannya kerajinan D’EcoPen. Continue Reading…

(0)

Menurut makarame, selain dikenal sebagai Kota Pelajar dan Kota Budaya, Yogyakarta juga cocok menyandang Kota Kreatif! Yup! Begitu banyak seniman tinggal di Yogyakarta. Bahkan sudah ter-cluster. Misalnya, kita tinggal pergi ke Kasongan untuk melihat kerajinan Gerabah atau Ke Kotagede untuk melihat kerajinan perak. Nah, awal Juni kemarin, makarame main nih ke Kotagede, lihat-lihat kerajinan perak di sana. Pulangnya mampir ke Malioboro. Sepertinya, Malioboro memang destinasi wisata yang nggak boleh dilewatkan kalau lagi ke Jogja ya, guys!

Festival Ruwahan Apeman Malioboro #VI, Ruwatan Sampah Cokro Manggilingan Continue Reading…

(9)

Alhamdulilah, makarame dapat kesempatan lagi untuk membuat souvenir mawar dari flanel nih, greeners. Potnya ini dari kaleng bekas lho.. Terima kasih untuk calon pengantin yang sangat peduli dengan upaya makarame melakukan recycle dan upcycle kali ini. Semoga acara pernikahannya lancar dan langgeng sampai akhir hayat. Aamiin…

souvenir, mawar, flanel, shabby, kaleng, bekas, recycle, upcycle, makarame

Continue Reading…

(1)

Hallo greeners… hari minggu kemarin kemana aja nih? Kalau makarame main-main nih ke Galeri Bank Sampah Makmur di Ngampel, Blotongan, Salatiga. Hmm… seru banget lho greeners! Pasti kalian bakal betah berlama-lama deh di sana.

Nah, pertama kali masuk kompleks Galeri Bank Sampah Makmur, makarame langsung tertarik sama plang yang terpampang di pertigaan kompleks. Yang ini nih…

galeri, bank, sampah, makmur, ngampel, blotongan, salatiga

Yup! Dalam benak makarame “Duh, managemen-nya pasti bagus banget nih!” Apalagi nih greeners, didukung pula dengan kondisi kompleks yang sangat bersih dan rapi. Hampir setiap rumah pun punya tambulapot. Potnya pun dibuat dari sampah lho! Luar biasa bukan? Masalah pupuk, tenang, say no to pestisida atau pupuk kimia deh! Semua organik dari sampah sayur dan buah. Plus, media tanamnya pun dari campuran kompos, sekam, dan tanah dengan perbandingan 2:2:1

galeri, bank, sampah, makmur, ngampel, blotongan, salatiga

Kenalin nih greeners, namanya Pak Sugito. Beliau ini pionir dari Galeri Bank Sampah Makmur. Pak Sugito lagi menjelaskan proses pembuatan kompos dan pupuk cair menggunakan EM4 dan tetes tebu. Harus sabar ya, greeners, paling tidak membutuhkan waktu 1 bulan! Tapi tenang, kompos ini tidak berbau kok, dan pupuk cairnya juga berbau seperti buah atau sayur aslinya. Yang ini dibuat dari mangga. Sstt… jangan diminum ya. Hehe

galeri, bank, sampah, makmur, ngampel, blotongan, salatiga

galeri, bank, sampah, makmur, ngampel, blotongan, salatiga galeri, bank, sampah, makmur, ngampel, blotongan, salatiga galeri, bank, sampah, makmur, ngampel, blotongan, salatiga galeri, bank, sampah, makmur, ngampel, blotongan, salatiga

Dari pembuatan kompos, kita diajak mengunjungi Galeri. Pameran dari segala macam olahan sampah anorganik. Duh, sebenarnya, kita di sini disuguhi jus jambu, pisang goreng, dan rolade daun singkong. Tapi, saking senengnya lihat kerajinan, jadi lupa foto. Tapi, ga lupa makannya. Xixi… T-O-P-B-G-T deh makanan dan minumannya! Nah, mau pamer beberapa karya mereka dulu ya…

galeri, sampah,bank, makmur, ngampel, blotongan, salatiga galeri, bank, sampah, makmur, ngampel, blotongan, salatiga galeri, bank, sampah, makmur, ngampel, blotongan, salatiga galeri, bank, sampah, makmur, ngampel, blotongan, salatiga galeri, bank, sampah, makmur, ngampel, blotongan, salatiga galeri, bank, sampah, makmur, ngampel, blotongan, salatiga galeri, bank, sampah, makmur, ngampel, blotongan, salatiga

Gimana greeners? Keren kan? Karya mereka ini selain digemari turis lokal, juga sudah sampai ke Singapura dan Belgia lho! Wow! Hebat kan? Kapan ya, makarame bisa ekspor juga? Hmm… harus meniru semangat berkarya dan kerja keras mereka ya, greeners.

Asyik di galeri, kita diajak lagi berkeliling ke Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL). Seperti di awal tadi makarame cerita kalo di depan rumah masing-masing, sudah mulai menanam sayuran. Nah, yang sekarang ini semacam rumah kacanya greeners…

galeri, bank, sampah, makmur, ngampel, blotongan, salatiga

Sayang, tadi belum bisa panen ya. Rasanya pengen mencicipi sayuran organik. Lebih sehat dan pastinya lebih nikmat dong ya..

Selesai dari KRPL, kita langsung cus ke gudang. Seperti apa sih gudang penyimpanan sampahnya?

galeri, bank, sampah, makmur, ngampel, blotongan, salatiga

Hmm… tumpukan sampah ini, ternyata kalau diolah seperti di galeri tadi, sangat bernilai jual tinggi. Dan, sisanya yang tidak sempat diolah, dijual ke pengepul. Pun dengan harga yang sangat fantastis! Luar biasa bukan? Dari sampah akhirnya menjadi berkah.

Makasih banyak Galeri Bank Sampah Makmur sudah mau direpotin rombongan kami. Sebelum pulang, foto-foto dulu dong.galeri, bank, sampah, makmur, ngampel, blotongan, salatiga

(2)

Di tangan orang-orang kreatif, limbah sabut kelapa bisa dijadikan pot yang indah. Tampak natural untuk tanaman kaktus dan sukulen mini. Benar-benar membuat mata segar memandang dan sukses membawa nuansa alam ke dalam rumah. Mau mencoba sensasinya greeners?

Kaktus, Sukulen, Cactus, Sucullent, Makarame

souvenir, tanaman, kaktus, sukulen, mini, makarame souvenir, tanaman, kaktus, sukulen, mini, makarame

Kaktus Sukulen Cactus Sucullent Makarame Kaktus, Sukulen, Cactus, Sucullent, Makarame Kaktus Sukulen Cactus Sucullent Makarame Kaktus, Sukulen, Cactus, Sucullent, Makarame Kaktus Sukulen Cactus Sucullent Makarame Kaktus, Sukulen, Cactus, Sucullent, Makarame Kaktus Sukulen Cactus Sucullent Makarame Kaktus, Sukulen, Cactus, Sucullent, Makarame Kaktus Sukulen Cactus Sucullent Makarame Kaktus, Sukulen, Cactus, Sucullent, Makarame Kaktus Sukulen Cactus Sucullent Makarame Kaktus, Sukulen, Cactus, Sucullent, Makarame Kaktus Sukulen Cactus Sucullent Makarame Kaktus, Sukulen, Cactus, Sucullent, Makarame

(0)

Bank sampah. Sudah pasti sudah tidak asing lagi di telinga kita kan ya! Secara bak jamur di musim penghujan, kegiatan peduli sampah dan lingkungan ini hampir dapat kita temukan dimana-mana. Terlebih, setelah seorang dokter muda yang mendapat penghargaan langsung oleh Pangeran Charles di London terkait klinik sampahnya. Dimana setiap orang bisa berobat hanya dengan membayar menggunakan sampah! Wow! Luar biasa memang dr. Gamal Al Bin Said ini. Inspirator bagi para pemuda.

COKROWONO: PENGGERAK MASA DEPAN SUMOWONO

Nah, kali ini, giliran pemuda pemudi Sumowono yang tergerak hatinya untuk meluangkan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk membuat bank sampah yang diberikan nama COKROWONO. Nama ini diambil dari filosofi cerita pewayangan. Cokro adalah senjata Kresna, sedangkan Wono sendiri diambil dari nama SUMOWONO (nama desa kita tercinta) yang berarti hutan. Dimana diharapkan, Cokrowono ini dapat menjadi penggerakan kemakmuran dan kesejahteraan sumowono melalui pemuda pemudinya. Bukankah Ir. Soekarno pernah mengatakan bahwa beliau akan mengguncangkan dunia jika diberikan 10 pemuda? Begitu dahsyat bukan!

immdn, nyampuran, sumowono, ikatan, muda, mudi, makarame

Cokrowono sendiri digawangi oleh sekumpulan muda mudi yang tergabung dalam Ikatan Muda Mudi Dusun Nyampuran (IMMDN). Mulai dari anak-anak, remaja, ibu-ibu, bapak-bapak, bahkan kakek-kakek dan nenek-nenek pun ikut berpartisipasi! Semoga bisa berjalan lancar hingga berkembang suatu saat nanti ya, guys. Aamiin…

POSBINDU = TES KESEHATAN NASABAH COKROWONO

Nah, di kegiatan bank sampah ini. Kita tidak hanya peduli masalah sampah dan lingkungan saja lho. Tetapi juga kesehatan para nasabahnya. Kita sediakan tensimeter GRATIS untuk mengecek tekanan darah. Dan, ada juga ke depannya timbangan badan dan lingkar perut. Yup! Harapannya kita bisa mencegah berkembangnya penyakit degeneratif di Sumowono. Ya, bukankah mencegah lebih baik daripada mengobati bukan?

bank, sampah, cokrowono, posbindu, nyampuran, sumowono, ikatan, muda, mudi, makarame
Tensi salah satu nasabah Cokrowono. Sehat selalu ya, Mbah…

Lingkungan bersih, dapat tabungan untuk bekal lebaran, plus badan jadi sehat! Minat melihat kegiatan Cokrowono lebih lanjut? Yuk, main ke Sumowono…!!!

bank, sampah, cokrowono, posbindu, nyampuran, sumowono, ikatan, muda, mudi, makarame
Ngangkut Sampah Pakai Truk Tetangga. Makasih Om…
(1)

Yup! Untuk kedua kalinya saya menulis tentang Bank Sampah Cokrowono. Bukan masalah mau eksis sih, tapi lebih karena postingan saya hilang setelah maintenance. Owh, wow! Okelah… ayo menulis lagi dengan penuh semangat!!! \(^o^)/

Sobat MakaraMe pasti sudah sering dong ya, mendengar tentang bank sampah. Atau bisa jadi justru sobat merupakan salah satu pelaku dari Bank Sampah ini? Kalau iya, mau dong dibagi ilmunya. Saya dan teman-teman di Cokrowono masih sangat awam nih tentang Bank Sampah. Continue Reading…

(0)