Sejarah Pembalut yang Akan Bikin Kamu Bersyukur Hidup di Zaman Sekarang -

Sejarah Pembalut yang Akan Bikin Kamu Bersyukur Hidup di Zaman Sekarang

Menstruasi adalah rutinitas biologis yang dialami oleh setiap wanita remaja hingga dewasa. Saat ini, bukanlah hal tabu untuk membahas topik terkait dengan menstruasi. Tentu hal ini karena berkaitan dengan kesehatan wanita, khususnya kesehatan reproduksi. Salah satu hal yang wajib diperhatikan oleh wanita pada saat menstruasi adalah pembahasan tentang pembalut. Pemilihan pembalut yang tepat bukan hanya penting untuk kesehatan wanita, tetapi juga kesehatan lingkungan. Oleh sebab itu, pembahasan tentang pembalut kini bukan hanya menjadi perhatian para wanita dan pakar kesehatan tetapi juga pakar lingkungan.

Dari kaca mata kesehatan, pembalut yang aman dan sehat harus bebas dari dioxin, klorin, dan terbebas dari parfum/pewangi. Sedangkan dari kaca mata lingkungan, sebaiknya para wanita dianjurkan menggunakan pembalut yang ramah lingkungan agar tidak menambah tumpukan sampah yang menggunung. Oleh sebab itu, banyak produsen yang kemudian memproduksi pembalut kain atau menstrual cup yang dalam beberapa akhir tahun ini sangat banyak diminati.

Namun, apakah kalian pernah penasaran bagaimana para wanita pada zaman dahulu menampung darah haidnya? Yuk, simak sejarah pembalut wanita yang akan membuat kalian merasa bersyukur hidup di zaman sekarang!

Isolasi Mandiri

Eits, ternyata isolasi mandiri tidak hanya soal corona. Jauh sebelum itu, isolasi mandiri juga berlaku bagi para wanita yang sedang haid. Karena belum ditemukan pembalut yang mampu menampung darah haid. Para wanita yang sedang haid diharuskan duduk di suatu tempat seharian dengan alas yang dapat menyerap darah haid. Bahkan hingga tahun 2017, di beberapa daerah terpencil di Nepal masih melakukan praktik pengasingan wanita haid di sebuah gubug hingga memakan korban.

Zaman Sebelum Masehi: Mulai Menggunakan Bahan Alami

Pada zaman sebelum masehi, beberapa bahan alami yang digunakan untuk menampung darah haid antara lain tampon dari papirus yang digulung (perempuan Mesir kuno), daun pakis (Hawaii), lumut rumput, atau tanaman lain (Afrika), tampon kertas (Jepang), potongan pakaian atau lap (China), wol (Roma), kapas dan spons (Eropa), atau serat sayuran (Indonesia).

READ  7 Tips Mencegah Kerusakan Gigi Anak

Tahun 1800-an: Sanitary Apron

Pada awal tahun 1800-an muncul inovasi pembalut berbentuk apron atau celemek seperti orang memasak. Namun, pemakaiannya dibalik, bagian depan menjadi bagian belakang dan ditambah lapisan karet pada bagian bawah pantat untuk mencegah kebocoran. Sayangnya apron ini kurang nyaman digunakan karena berat dan bau.

Tahun 1888: Sanitary Belt

Bentuk pembalut bersabuk ini sama dengan pembalut yang ada saat ini namun belum berperekat tetapi ditambahkan semacam sabuk agar pembalut tidak bergeser.

Tahun 1897: Lister’s towel

Pad tahun 1897, Johnson & Johnson mengeluarkan produk handuk penyerap untuk menampung darah haid. Sebetulnya pembalut ini sudah biasa digunakan oleh wanita nifas setelah melahirkan. Kemudian berkembang untuk digunakan sebagai pembalut.

Tahun 1920 (Perang Dunia I): Pembalut pertama dari Kotex

Bermula dari sulitnya bahan perban kapas untuk pembalut, Perusahaan Kimberly-Clark berinovasi menggunakan kapas selulosa sebagai pembalut dengan masih menggunakan sabuk elastis. Mereka memberikan merek Kotex pada produknya. Dan berhasil laris di pasaran pada tahun 1926 dengan metode marketing melalui email.

Tahun 1929: Tampax

Tampax merupakan inovasi tampon yang dilakukan oleh Dr Earle Haas karena melihat istri dan pasien-pasiennya tidak merasa nyaman menggunakan bantalan pembalut yang tebal. Namun, produk tampax ini kurang diminati oleh wanita saat itu karena kahwatir aliran darah yang keluar menjadi terhalang, kehilangan keperawanan, atau merangsang hasrat seksual.

Tahun 1937: Menstrual Cup

Adalah Leona Chalmers yang kemudian berinovasi membuat menstrual cup dengan bahan latex yang bisa dicuci dan dipakai ulang.

Tahun 1960-an: Pembalut Sekali Pakai dengan perekat

Akhirnya Personal Products Company dengan pembalut merek Stayfree dan Kimberly-Clark dengan pembalut merek New Freedom mengeluarkan pembalut tanpa sabuk elastis tetapi dengan perekat sehingga lebih praktis. Di Indonesia, Softex menjadi pionir pembalut sekali pakai. Berawal dari pabrik garmen yang kemudian menjadi pabrik pembalut karena kebanyakan karyawan wanitanya mengambil sisa-sisa kain untuk dijadikan pembalut. Maka, inovasi memunculkan produk Softex yang mampu bertahan hingga sekarang.

READ  2 Kelebihan Konsultasi Dokter Melalui Internet

2020: Shevee Pembalut Kain Serat Bambu Anti Bakteri, Anti Iritasi, dan Anti Alergi Serta Ramah Lingkungan

Kini, banyak pilihan pembalut bagi wanita yang kemudian memunculkan masalah baru yaitu masalah lingkungan dan kesehatan. Terkait masalah lingkungan, pembalut kini menjadi salah satu penyumbang sampah terbesar setelah plastik dan popok. Sedangkan terkait masalah kesehatan, beberapa produsen masih menggunakan klorin maupun dioxin untuk memutihkan kapas dimana hal ini dapat memicu kanker serviks. Selain itu beberapa produsen masih menambahkan parfun sebagai pewangi yang sebenarnya tidak baik juga untuk kesehatan.

Oleh sebab itu, Shevee hadir dengan inovasi Pembalut kain menggunakan serat bambu yang mengandung zat alami penny quinone yang mampu menghalau bakteri penyebab bau, iritasi, dan alergi pada wanita haid. Kain serat bambu juga lembut serta sejuk saat dipakai. Shevee memiliki tiga varian pembalut yaitu pantyliner, pembalut siang, dan pembalut malam. Tertarik mencoba? Yuk klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut.