Yura Yunita: Dari Body Shaming Menuju Panggung Java Jazz Festival - Makarame

Yura Yunita: Dari Body Shaming Menuju Panggung Java Jazz Festival

Penampilan fisik masih menjadi penilaian utama bagi beberapa oknum yang bergerak di industri musik. Suara bukan menjadi satu-satunya penilaian seseorang untuk bisa terjun dalam industri ini. Terlepas dari gimmick atau bukan, beberapa waktu lalu industri musik juga dihebohkan dengan salah satu acara audisi penyanyi dangdut oleh juri. Belum juga diberikan kesempatan bernyanyi, sudah dikomentari pedas terkait penampilannya. Meskipun pada akhirnya lolos dan diketahui hanya gimmick semata, tetapi tontonan tak mendidik tersebut seolah membenarkan bahwa penampilan fisik adalah hal utama seseorang untuk mencapai puncak kesuksesan di industri ini. Walaupun padahal penampilan fisik bisa juga kok dipoles secara perlahan. Yang terpenting bakat utama seorang penyanyi, yaitu suara bagus sudah dimiliki. Hal ini pula yang terjadi pada Yura Yunita, penyanyi yang mulai dikenal oleh publik setelah berduet menyanyikan lagu Cinta dan Rahasia dengan Glenn Fredly ini, pernah diremehkan bahwa fisiknya tak menjual. Suara bagus saja tidak cukup, penyanyi itu harus tinggi semampai.

Tak hanya sampai di situ, apakah teman-teman sudah pernah menonton Super Hap yang mengisahkan dua orang pemuda dengan penampilan fisik serta kemampuan berbeda yang ingin sama-sama terjun di industri musik. Teung pemuda tambun, pintar membuat lagu, dan memiliki suara bagus. Sedangkan Tong, pemuda tampan, tinggi semampai, pintar dance, tetapi memiliki suara jelek. Singkat cerita, mereka mengelabui publik dengan melakukan lip sync. Tentu, dengan persetujuan dari label yang menaungi. Begitu juga dengan Yura, dia pernah bernyanyi di belakang panggung untuk penyanyi lain di atas panggung. Suatu hal yang menyakitkan menurut saya. Terlepas dari kebutuhan hidup ya. Hehe

Namun, Yura yakin bahwa ketulusannya dalam bermusik, suatu saat akan membawa berkah tersendiri. Jangan putus asa, tetap berjuang, karena kerja keras tidak akan pernah mengkhianati hasil. Tahun 2014 Yura akhirnya merilis album pertama Balada Sirkus. Bahkan, dari lagu Intuisi, akhirnya Yura mendapatkan penghargaan di AMI Awards 2017 sebagai penyanyi wanita terbaik dan pencipta lagu wanita terbaik. Wow! Apa kabar orang yang sudah underestimate Yura dan berlaku tidak adil terhadap Yura dengan menyuruhnya lip sync ya? Entahlah! Semoga segera bertobat dan tidak menyakiti orang lain melalui penampilan fisiknya. Aamiin.

Keberadaan Yura di industri musik pun semakin dihargai dengan tampilnya Yura di acara musik bergengsi Jakarta International Java Jazz Festival (JIJJF) sejak tahun 2015 hingga tahun ini pun kembali mengisi Java Jazz 2019 yang akan diadakan pada tanggal 1 sampai 3 Maret 2019. Jakarta International Java Jazz Festival (JIJJF) merupakan festival musik jazz terbesar yang diisi oleh musisi-musisi ternama baik dari dalam maupun luar negeri sejak tahun 2005. JIJJF yang diselenggarakan oleh Java Festival Production ini diselenggarakan setiap tahun pada awal bulan Maret di Jakarta. Adalah Peter F. Gontha, pemiliki gagasan JIJJF ini dengan didasari oleh semangat damai dan harmoni melalui musik tanpa memandang segala perbedaan.

Pada tahun ini, Java Jazz 2019 mengusung tema Broadway dan Motown dengan tagline Music Unites Us All. Seperti motivasi awal Peter bahwa musik adalah bahasa internasional yang dapat menyatukan berbagai golongan. Dengan musik, orang lupa sejenak perbedaan yang melekat pada dirinya dan menikmati musik yang disajikan. Java Jazz 2019 juga memiliki misi regenerasi yaitu meningkatkan daya tarik penonton usia muda 18 sampai 34 tahun. Sebut saja Yura Yunita, Hanin Dhiya, Afgan, ANdien, Isyana Sarasvati, Kunto Aji, Rendi Pandugo, dan masih banyak lagi yang mampu menjadi daya tarik kawula muda. Hal ini terlihat dari hasil penjualan tiket Java Jazz 2019 secara online. Harga tiket java jazz 2019 sendiri beragam, mulai 750.000 untuk Daily Pass. Dan 125.000 hingga 355.000 untuk special show. Tertarik untuk menghadiri festival musik jazz terbesar ini? Atau tertarik untuk menjadi volunteer-nya? Coba saja cek mungkin panitia masih membutuhkan volunteer, tetapi hati-hati penipuan ya. Biasanya volunteer tidak dipungut biaya atau syarat aneh-aneh. Pastikan tempat wawancara dan penyelenggara resmi.

Bagaimana, sudah percaya bahwa kesabaran dan kerja keras akhirnya membuahkan hasil bukan? Dari kisah Yura, kita bisa belajar bahwa tak perlu putus asa jika saat ini ada orang yang sedang memandang sebelah mata mimpi kita. Ingat, banyak orang sukses yang dulunya disepelekan bahkan gagal berulang-ulang, seperti Tob pemilik camilan rumput laut Tao Kae Noi yang mungkin saja kamu pernah memakannya. Atau seperti kisah Bapak Hardadi pemilik Singkong Keju D-9 (Oleh-oleh Khas Salatiga) seorang mantan napi blok narkoba kamar D-9 yang kini bisa mengumrohkan karyawannya. Jadi, untuk kita yang sedang berjuang, habiskan jatah gagal kita, dan jemput kesuksesan kita bersama.

Everything Takes Times

 

 

WhatsApp chat