Bagi para traveller, khususnya pendaki gunung, pasti sudah tak asing dengan Nyoman Sakyarsih, seorang dokter hewan yang hobbi naik gunung. Beberapa waktu lalu sempat menghebohkan media sosial karena beliau seringkali membawa anaknya yang masih balita mendaki gunung. Max, anak Mbak Nyomie, sudah mendaki 15 gunung dalam usianya yang baru menginjak 3 tahun. Bahkan saat usianya belum genap 2 tahun, Max sudah berhasil di Puncak Rinjani. Wow! Bahkan di usia yang hampir menginjak kepala 3 saja belum pernah mendaki gunung. Hehe

Dari pengalaman Mbak Nyomie dan beberapa traveller yang sering mengajak anaknya travelling serta dari beberapa artikel yang saya baca, ternyata mengajak anak travelling sejak dini itu banyak manfaatnya, lho! Saya rangkum dalam beberapa poin berikut ini sebagai pengingat bahwa suatu saat jika sudah memungkinkan, saya akan mengajak anak saya untuk travelling. Tidak harus jauh-jauh, kok! Bahkan sekedar jalan-jalan di lingkungan sekitar saja sudah akan banyak memberikan manfaat. Baca Selengkapnya

(6)

Terkadang, justru orang sekitar tidak terlalu mengenal wisata di daerahnya sendiri. Atau mungkin hanya saya saja? Jujur saja, eksplorasi wisata Salatiga kali ini benar-benar baru saya ketahui melalui website seorang kawan wartawan yang kebetulan update berita tentang salatiga. Batik bambu yang sebenarnya sudah ada sejak jaman penjajahan, baru saya ketahui beberapa waktu lalu. Pun dengan tempat makan hits singkong keju D9 yang super duper ramai padahal bukan di pinggir jalan lho, outletnya. Bahkan untuk mendapatkan parkir saja susah sekali. Wilayahnya terhitung masuk ke dalam, namun rejekinya tak kalah dengan yang di tempat strategis. Keduanya, baik workshop bambu batik maupun D9 berada di wilayah Ledok, Salatiga. Yuk, kenalan dengan aset berharga Salatiga kali ini.

Berada di Jl Argowiyoto 2 RT 04 RW 02, Ngaglik, Ledok, Salatiga, workshop Batik Bambu Santoso menjadi saksi sejarah betapa kerja keras dan ketekunan akan membuahkan hasil yang manis. Kurang lebih 75 tahun sejak dirintisnya usaha Batik Bambu, sudah lebih dari 40 galeri baik dalam maupun luar negeri yang menjadi partner pemasaran kerajinan khas Indonesia ini. Usaha keluarga yang dikerjakan secara turun temurun ini memiliki banyak produk seperti celengan, vas bunga, asbak, tatakan gelas/piring, nampan, gelang, dan lain-lain. Jika kalian jalan-jalan ke galeri dan menemukan produk-produk seperti di bawah ini, bisa dipastikan berasal dari Santoso.

 

 

 

Proses pembuatan batik bambu ini cukup panjang lho! Dan masih dilakukan secara tradisional. Mulai dari pemilihan bambu, pemotongan bambu sesuai dengan pola, pengovenan, pembatikan, pemolesan dan pengecatan ulang, dan pengovenan kembali. Perlu diketahui bahwa proses panjang ini sudah memiliki divisi masing-masing dan beberapa dilakukan terpisah. Seperti pembatikan yang dilakukan di Solo dan finishing di Salatiga meliputi pemolesan dan pengecatan ulang serta pengovenan.

 

 

 

Tak ingin mengganggu proses panjang pembuatan batik bambu ini, kami melanjutkan perjalanan ke tempat makan singkong keju D9. Kami pun baru tahu setelah diinfokan oleh Mbak Mia, owner Santoso, untuk mencoba tempat makan yang sedang hits ini. Wow! Kemana saja selama ini sampai tidak tahu usaha yang sedang melejit ini. Singkong keju buat kami yang memang orang kampung, sudah biasa saja karena di rumah sudah cukup sering mengonsumsinya. Tapi, bagi orang kota mungkin ini camilan luar biasa enaknya yang sulit ditemui. Hehe

Nah, justru peluang inilah yang dibaca dengan baik oleh pemilik D9. Sekaligus sebagai alternatif oleh-oleh khas Salatiga. Jadi, jika kita masuk kawasan Ledok ini, terdapat beberapa rumah yang pekerjaannya khusus mengupas, mencuci, dan mengolah singkong. Membuka lapangan pekerjaan yang bagus buat penduduk sekitar. Tidak hanya singkong keju, tetapi outlet D9 juga menyediakan aneka olahan singkong lainnya seperti mentho, klenyem, gemblong, dan lain-lain. Terdapat juga cafe yang bisa dicoba untuk makan besar.

Suasana panas Salatiga menggiring kami untuk mencari yang segar-segar. Nah, kami memiliki tempat nongkrong segar dan yahud di sekitar stadiun Kridanggo, dekat dengan Perpustakaan Kota Salatiga. Es kelapa muda yang legendaris dan tak pernah sepi pengunjung. Di sekitarnya, terdapat jajanan yang tak kalah lezatnya. Batagor, siomay, bakso kawi, mie ayam, hingga ramen. Tempat nongkrong yang asyik meski di pinggir jalan.

Bagaimana Mbak Muna dan Mbak Wuri ingin mencoba wisata murah meriah di Salatiga?

(3)
Show More Posts